Posts

Oh, Fadia Arafiq

Jangan berlebihan merayakan sesuatu. Itulah kalimat yang relevan buat masyarakat Pekalongan. Diksi "merayakan" pun kiranya sudah tepat. Bentuk perayaannya beraneka macam. Dari memasang spanduk di tempat umum dengan ucapan terima kasih pada KPK, sampai bagi takjil sebagai syukuran. Usai ditetapkan jadi tersangka kasus korupsi (detil kasusnya bisa disimak di banyak media), terpampang di jagat medsos Fadia Arafiq, bupati Pekalongan mengenakan rompi oranye dengan kerudung menutupi hampir seluruh wajahnya. Aku hanya melihat sebelah matanya menyeruak di antara keriuhan- pertanyaan hingga hujatan (oleh netizen). Mengemukanya kasus rasuah Bupati Pekalongan tidak cuma menandakan adanya penyalahgunaan wewenang. Berdasar konferensi pers KPK, belasan milyar uang dari perusahaan keluarga bupati, yang mana hasil penyalahgunaan wewenang jabatan tersebut, mengalir kepada Fadia dan keluarganya. Belasan milyar, bayangkan! Sementara warga Kabupaten Pekalongan masih banyak yang miskin. Mengemuka...

Merangkai Puzzle G30S

Terakhir, dua tahun lalu, aku agak serius mengkaji sejarah peristiwa Gerakan 30 September, lewat literatur seadanya. Buku yang sempat aku gunakan antara lain: Kudeta 1 Oktober (Anderson & Mcvey, 2017); Peristiwa G30SPKI: 60 Hari yang Mengguncang Dunia (Tim Dewan Pakar DPP Laskar Ampera, 2018). Karena hanya agak serius, upaya pengkajian itu tidak tuntas. Namun, selalu ada keinginan untuk melakukannya lagi. Dan memang secara kontinyu aku masih menggapai-gapai fakta yang berseliweran. Walaupun tidak lewat sumber fisik. Lebih sering dapat dari media digital. Seperti baru saja aku tercerahkan sedikit melalui artikel Muhidin M. Dahlan (sebelumnya terbit di Mojok tanggal 11 Maret 2026) yang ia posting dalam bentuk carousel di Instagramnya. Gus Muh sebenarnya lebih menonjolkan apa yang terjadi pada Iran di masa 1950-an. Di mana PKI memberi dukungan kepada Iran lewat partai kiri Tudeh yang terakomodir dalam pemerintahan Mossadeq yang saat itu tengah akan digulingkan oleh imperialisme Amer...

Malam Bulan Puasa

Di kecamatan ini, suasana malam di bulan Puasa dari awal abad 21 sampai sekarang tidak pernah berubah. Selalu bertabur kegiatan konfeksi di rumah-rumah. Dari ukuran besar sampai yang hanya terdiri dari satu keluarga. Mereka bergelut dengan kain-kain, menjahit baju dan lain-lain. Meski begitu, sejak cara manusia dalam menjual-belikan barang berkembang ke arah digital, ada wajah lain yang tampak di malam Ramadan, yaitu perpaketan atau ekspedisi. Geliatnya begitu besar. Sebab setiap hari selalu ada orang membeli barang dari toko online , tentu harus ada pihak yang menyediakan barangnya, para pejuang online shop lah pemainnya di lapangan baru ini. Mungkin dulu di awal trennya, aku melihatnya sebagai aksen saja. Tapi, sekarang sudah menjadi sesuatu yang primer. Mungkin orang lain merasa asyik dan senang dengan tren itu. Apalagi yang hobi berbelanja. Tapi, aku dan pikiranku-- yang aneh ini-- seperti belum bisa menerimanya. Perubahan yang terlampau mempermudah itu terlalu mengikis wajah lama...

Ketika Formalisme Dihadapkan pada Moral

Sekitar pukul tiga pagi perempuan berbusana serba kuning kunyit, tak berbeda seperti biasa di kepalanya terbalut kerudung yang khas, ia duduk di atas kursi roda, satu orang di belakangnya dan puluhan lagi mengikutinya berjalan menuju panggung. Di langit-langit gedung menggema lantunan yang sangat kita kenal dan mengenalnya sebagai syiir . Semua orang berdiri kecuali perempuan dengan kerudungnya yang khas itu. Lantunan berhenti dan semua duduk. Namun, kondisi duduknya ratusan orang di gedung itu berbeda-beda. Meskipun sama-sama menghadap sekotak nasi. Di antara mereka ada yang sudah kenyang-- rata-rata yang duduk di barisan belakang. Ada yang-- entah alasan mulia seperti taat aturan dari panitia, atau karena sungkan dan risih terlihat oleh orang-orang yang duduk di panggung-- bertahan tidak mengotak-atik apa yang ada di dalam kotak di depannya. Perempuan berkerudung kuning kunyit itu menunjuk tulisan di belakang panggung; judul acara pagi itu. Orang-orang di depannya termasuk aku tentu ...

Yang Kubawa Pulang

Sempurna. Hari ini terpungkasi dengan guyuran hujan deras ke tubuh lunglaiku. Kilat berkejap-kejap, mataku menangkap cahaya putih berkali-kali, dan petir menggelegar angkuh. Menyusuri aspal yang compang-camping, perasaan takut menyusup ke dalam nyaliku, namun tak terkalahkan oleh galau yang sejak tadi sore kubawa dari Purwokerto. Sepanjang perjalanan, stasiun demi stasiun, tidak ada yang kupikirkan selain percakapanku dengan Jose di atas meja Calf. Sepanjang perjalanan kereta Joglosemarkerto pikiranku seperti tumpukan sampah di TPS yang bercampur tidak karuan. Entah mengapa aku sangat khusyu menatap layar monitor di arah jam dua gerbong Ekonomi 5. Menerima apa pun yang ditampilkan di sana meski tanpa suara. Sehingga yang kudengar adalah suara roda kereta, kutambah lagu-lagu Naif yang sengaja kuputar di Youtube dan kudengarkan lewat earphone . Suara David Bayu kupikir paling cocok buat suasana hati saat ini. *** Sesungguhnya ban motor yang menghindar dan terperosok ke dalam lubang-luban...

MBG Lagi, MBG Lagi

Motif Makan Bergizi Gratis (MBG) selain pemenuhan gizi, adalah penyeragaman. Sekarang anak-anak mengalami penyeragaman berlapis. Setelah sistem pendidikan yang sudah cukup menyeragamkan pikiran, kini MBG masuk sekolah dan secara tidak langsung anasir militer pun disusupkan di sana. Militer, kita tahu memakai sistem satu komando. Sangat kental sekali dengan penyeragaman di aspek apa pun itu. Sifat militer yang begitu tidak salah. Karena, itu berkaitan dengan fungsinya dalam menjaga keutuhan negara dari ancaman eksternal. Namun, yang salah ialah menerapkan style militer ke dalam kehidupan sipil. Setahun lebih usia rezim Prabowo Subianto seharusnya kita telah menyadari bahwa dirinya yang sangat mencintai dunia militer tersebut ingin sharing kecintaannya ke seluruh rakyat Indonesia. Lewat MBG inilah salah satunya. Food tray stainless-steel adalah nama lain dari yang pekerja SPPG sebut sebagai 'ompreng'. Apakah kita, orang sipil familiar dengan food tray stainless-steel ? Aku kira...

Recap Januari

Januari dan berat. Tidak hanya tahun ini dua kata itu bergandengan. Kira-kira lima tahun ke belakang mereka mulai berdekatan. Hampir bersinonim. Namun tidak akan pernah terjadi yang demikian. Karena mungkin hanya aku yang bersepakat. Biarkan saja ini menjadi- pinjam kalimat Chairil Anwar- kesunyian masing-masing. Termasuk kesunyianku. Di kurun waktu itu hingga sekarang, setiap penghujung tahun bukan bonus dari kantor yang didapat, melainkan rasa 'ketar-ketir' yang menghinggap. Pasalnya ketika tahun telah berganti ada hal yang berubah, tidak cuma usia Bumi, tapi kebijakan instansi. Wabil khusus perpajakan daerah. Kemudian ada di seberang sana biasanya pihak yang terdorong menanyakan pekerjaan yang belum selesai. Dua hal itu (pergantian kebijakan dan dorongan menagih pekerjaan) selalu menjadi kombinasi yang muncul dalam duniaku lima tahun terakhir. "Mengapa harus demikian?" Aku bertanya dengan hati yang lelah. Kedua tanganku menengadah berlawanan arah. Lewat air muka...

Perpusda Tutup

Di sisa hari pada bulan Desember, hari yang perlahan memungkas tahun terjadinya bencana banjir besar di Sumatra akibat deforestasi, aku pergi ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Pekalongan, dan berhenti di depan gerbang hitamnya yang tergembok. Aku terangkan. Memang pekan ini ada libur Natal (Kamis) dan satu cuti bersama pasca Natal (Jumat). Tapi bukankah sudah semestinya Sabtu-Minggu perpusda buka? Bahkan jika mau lebih serius meningkatkan kualitas manusia di Kabupaten ini, Perpusda tidak menjadwalkan hari libur. Lah, ngga kasihan sama pegawainya, bang? Hampir Dhuhur. Di tengah suasana Car Free Day (CFD) Kajen yang mulai sepi, aku bingung harus ke mana. Karena satu-satunya tujuanku dari rumah adalah menikmati buku di perpustakaan itu- sambil menyedot es kopi susu gula aren yang tadi kubeli. Aku belokkan sepeda motorku ke kanan. Mengambil jalan di sisi seberang lalu keluar ke jalan raya dan entah mengapa aku berbelok ke arah Pendopo Kabupaten Pekalongan. Besar kemungkinan karena tempat i...

Dulu, Aku Ke Mana?

Jose dan aku menantikan roti bakar dan mie goreng yang sudah kami pesan sekitar satu jam yang lalu. Jose berbaring di kursi panjang sambil mengusap-usap layar HP-nya. Melihati hasil jepretan kamera yang menangkap gambar kami berdua di bawah dengan bantuan tripod dan bluetooth shutter. Di bawah kami dan berombong kawanan anak muda juga sepasang kekasih seperti kami adalah pantai. Aku bersyukur karena masih dapat melihat pantai dan merasakan sentuhan lembut ombak meski bukan di daerahku sendiri, Pekalongan. Melainkan di Batang. Semasa kecil di Pantai Ngeboom, Kota Pekalongan paling tidak setahun sekali aku bisa merasakan ombak yang sama. Namun terakhir aku ke sana alih-alih melihat pantai, yang ada malah tembok setinggi 2 meter menahan air laut agar tidak sampai di rumah-rumah di dekatnya. Gila! Jadi laut tersebut terlihat seperti kolam. Mengapa terjadi demikian aku kira tidak perlu dikatakan lagi. Sudah banyak informasi di internet soal kenaikan air laut di Pekalongan. Di tengah kegembi...

Berhipotesis

Sebelum menikah bisa dibilang kita membuat hipotesis pada pasangan kita. Sepanjang periode pacaran kita tidak tahu bagaimana watak, kebiasaan, dinamika emosi pasangan secara sesungguhnya. Sebagian melakukan eksperimen bahkan berkesimpulan. Namun percayalah pengujian variabel-variabel tersebut di masa pacaran banyak muskilnya menghasilkan kesimpulan yang valid. Contoh saja: sepasang kekasih yang ketika pacaran menyembunyikan kentutnya tidak berarti saat sudah hidup serumah akan lari keluar hanya untuk kentut. Mengeluarkan kentut, baik yang berbunyi atau sekadar berbau (busuk) adalah pekerjaan yang memalukan apabila dikerjakan di sekitar orang yang belum kita kenal. Tapi bukannya pacar adalah orang yang kita kenal, ya? Spesifik lagi, deh: di sekitar orang yang belum kita kenal atau sudah kita kenal tapi belum pernah mendengar pun mencium aroma kentut kita. Kecuali kentut tersebut baunya bunga lavender. Contoh lain yang lebih dramatis. Seberapa besar pacar pernah marah dan apa penyebabnya...

Farid dan Benaya Hanya Berhenti

Berhenti di perempatan Ponolawen dari arah utara itu rasanya tidak nyaman. Menunggu lampu hijau di perempatan yang mempertemukan truk-truk besar tersebut hampir seperti menunggu portal kereta api terbuka setelah dua ekor kereta melintas. Lama sekali. Dan itu juga yang akhirnya membikin cemas. Karena truk-truk besar tadi. Sesekali aku menengok spion, memastikan di belakang truk-truk yang searah mengaspal dengan aman. Berhenti cukup erat kaitannya dengan 'rampung' dan 'selesai'. Lukisan yang rampung tidak selalu bisa dikatakan selesai. 'Rampung' adalah keadaan di mana pelukis memilih berhenti di tengah keinginan untuk terus-menerus melanjutkan lukisannya. Kau dapat lebih mengerti (atau malah kurang mengerti?) Goenawan Mohamad menjelaskan itu dalam teks pidatonya berjudul "Fragmen: Peristiwa" yang tergabung di bukunya  Pada Masa Intoleransi . Kecepatan kendaraan 0 km/jam di lampu merah tidak berarti perjalanan pengendaranya sudah selesai atau sampai tuju...

Ramah-Tamah di Hari Kematian

Tak cuma dalam pernikahan, manusia pun di hari kematiannya butuh ramah-tamah. Terdengar tidak masuk logika berpikir dalam lingkup kultur masyarakat sini. Tapi bisa jadi ada dalam tradisi masyarakat sana. Misal pun tidak, maka premis tersebut biarlah jadi perenungan kita. Jika tak cukup patut sebagai bahan merenung, tidak apa-apa, biarkanlah berlalu seperti obrolan pelipur sedih oleh tamu yang datang semalam sebelum seonggok jenazah di ruang depan itu dikuburkan. Saudaraku, sepupu dari ibu, meninggal dunia kemarin. Perempuan muda belia, kata bapak kyai penyambung lidah empunya musibah di masjid menjelang jenazah disholatkan. Saudaraku itu perempuan pendiam yang baik. Karena kata bapak kyai ada orang pendiam yang di dalam hatinya menyimpan rasa dengki. Aku ini jarang melayat orang meninggal khususnya di kampungku sendiri. Namun berbeda ketika yang meninggal selama hidupnya cukup dekat denganku. Tanpa diminta aku akan melayat dan mendoakannya di hari kematiannya. Kala itu pula aku yang te...

Profesionalitas yang Lain

Kantor tempatku bekerja tidak seperti kantor pada umumnya dengan segala aturan-aturan tertulis dan tegas yang wajib dilaksanakan dan pantang ditinggalkan, meskipun ada pengecualian-pengecualian sebagai ketentuan tambahan. Di kantor lain mungkin jika karyawan ada keperluan keluarga yang urgen ia diperbolehkan izin meninggalkan pekerjaannya sebentar, asalkan tidak terus-terusan. Mungkin terdengar agak fleksibel. Namun di kantorku lebih fleksibel dari itu. Kondisi yang lebih fleksibel itu berubah menjadi terlalu fleksibel, dan menurutku tidak sehat untuk keberlangsungan kantor. Misal, aku yang kadang di suatu pagi bingung ketika ada kerjaan yang perlu diselesaikan dan butuh rekan kerjaku, sedangkan ia belum datang ke kantor, dan menunggunya tidak sebentar. Padahal pagi hari waktu masih semangat-semangatnya. Namun, hal ini aku bahas di lain tulisan saja. Kali ini ada fenomena lain yang unik mau aku ceritakan. Ada teman laki-laki di kantor yang telah berkeluarga, ia berangkat cukup siang da...

Fasilitasi

Langkah berjalan mundur cepat, waktu tergulung, tahun-tahun terlipat, lalu berhenti di masa ketika aku duduk di bangku paling depan mengerjakan soal ujian tengah semester kelas 3 SMP. Hanya ada beberapa benda yang legal berada di atas meja; kertas folio bergaris, pulpen, penghapus pena, dan lembar soal ujian. Namun aku kecewa berat, karena soal yang tercantum di lembar itu berbeda sama sekali dengan apa yang sudah aku pelajari (atau hapalkan?) semalam. Kesal; merpati dari kertas yang biasanya dibuat dari lembaran buku yang tidak terpakai, saat itu kubuat dari kertas soal ujian. Pikirku dahulu mungkin: membuat kertas soal itu menjadi merpati adalah lebih baik daripada meremasnya. Namun, ibu guru pengawas tetap saja tidak respect dengan perbuatanku. Pesannya: hargailah yang mengetik soal di kertas itu. Aku merasa bersalah, menyesal telah melakukannya. Padahal kalau dipikir-pikir sekarang waktu itu aku kecewa dengan sesuatu yang tidak begitu berkualitas dalam proses pendidikan seorang ma...

Kereta Terlambat

Kabar baik, sakit tenggorokanku sudah tidak kurasa seharian. Kabar buruknya, itu hanya berlangsung saat aku ditemani kekasihku hari ini. Selepas beberapa jam sehabis keretanya berangkat aku mulai merasakan ludah seperti menghantam lagi pada sebelah kiri jakun. Tidak pernah aku lihat sebelumnya stasiun seramai tadi. Parkiran mobil sesak dan teras stasiun dipenuhi orang-orang yang menunggu keretanya datang. Bisa sedikit kumengerti relasi paling berharga mereka dari masing-masing pengantarnya. Seorang gadis mencium bocah laki-laki yang mungkin masih duduk di bangku PAUD. Seorang gadis yang lain dirangkul laki-laki yang lebih tinggi darinya. Seorang laki-laki yang dipeluk wanita paruh baya dengan hangatnya. Dan aku, tanganku digenggam oleh gadis di sampingku. Ia mengira, pasti karena besok Senin. Sebagian besar penumpang kereta malam ini pasti mereka adalah pekerja yang punya hari kerja pertama: Senin. Atau mahasiswa yang baru saja melipur rindu di kampung Pekalongan dan esok sudah mulai a...

Nyelonong dan Tiba-Tiba

Pikiranku kalut. Tenggorokanku sakit berlarut. Sudah seminggu lamanya tidak mereda sakitnya, aku sebut sakit saja walaupun ini tidak seperti batuk yang teramat mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun, aku jadi selalu kepikiran karena di hari pertama bulan November kekasihku akan datang. Sakit tenggorokan ini kenapa sih nyelonong dan tiba-tiba? Malam Kamis. Hampir pukul sembilan malam. Aku masih di kantor. Niat mau makan di warung Pak Dhirin, dekat bangjo Ponolawen itu. Tapi tidak jadi, karena ketika aku ke sana lempeng-lempeng kayu penutup jendela masih menghalangi apa yang ada di dalam warung. Tanpa putar balik, sepeda motor aku bawa ke arah barat melewati bangjo, kemudian belok ke arah lapangan Mataram dan tiba di tempat makan alternatif, Warung Lingsir Wengi. Menu sudah kupesan. Nasi megono pakai telor ceplok santan. Kusantap. Makanan masuk mulut, lalu kutelan, tidak ada angin tidak ada hujan, kok sakit ya tenggorokanku waktu menelan? Seketika aku tidak tenang. Tidak habis pikir sak...

Pemalas Banyak Mau

Ngga nyangka apa yang dikatakan Pandji Pragiwaksono di podcast Rintik Obrolan terngiang di pikiranku cukup lama. Berulang-ulang muncul. Sampai aku menulis ini. So, thank you, Pandji. Dia bilang, "Kaya itu dampak dari lu melakukan sesuatu dengan sangat baik." Makdeg . Kalimat itu masuk menukik ke dalam alam bawah sadarku. Persis dua hal tersebut, yaitu "kaya" dan "sesuatu" menjadi misteri dalam perjalanan hidup seseorang yang telah menghabiskan waktu tiga dekade ini. Serta apa yang telah diperoleh selama kurun waktu itu terasa begitu jauh dari cita-cita. Dan tentu saja berkaitan pula dengan kualitas hidup yang berbanding lurus dengan kondisi finansial. Berkaca kepada orang-orang yang seusia denganku- terlepas dari privilese- banyak dari mereka telah menghasilkan karya yang luar biasa. Di era banjir akses ini banyak sekali manusia produktif muncul dengan bakat masing-masing, dan tak cuma-cuma, dari sana pulalah akhirnya pundi-pundi uang dapat dikumpulkan. ...

Kenapa Pengen Punya Mobil?

Isu ekologi menjadi isu yang sangat aku perhatikan. Meskipun sedikit pengetahuanku tentang misalnya tumbuh-tumbuhan, fauna, dan ekosistem di sekeliling manusia, paling tidak aku merasa tidak sampai hati bila harus menerima kantong plastik sekali pakai ketika membeli sesuatu dari penjualnya. Bahkan melihat orang begitu tenangnya membeli es teh dengan wadah gelas plastik yang dibungkus kantong plastik aku "mbatin", kenapa ya mereka tidak menolak minimal kantong plastiknya? Selain itu, keadaan Bumi yang kian memanas juga mengusik pikiranku, aku resah namun tidak tahu bagaimana mengatasinya. Setiap hari aku tidak bisa bahkan menjadi tidak mungkin jika harus jalan kaki atau naik sepeda ke tempat kerjaku, ke tempat teman-temanku, pergi ke acara komunitas. Aku selalu butuh sepeda motor untuk mencapai tujuan-tujuan tadi. Namun, aku ingin punya mobil. Mengapa? Dipikir-pikir aku rugi sudah berusaha atau memikirkan tentang bagaimana cara meminimalisir pemanasan global. Sedangkan orang l...

Melebar ke Mana (-mana)?

Kurang lebih pukul 18.13 aku pamit pada kawan-kawan yang masih melingkar di forum diskusi Buka Buku volume 51. Aku bilang lewat chat grup WA Gusdurian kalau telat. Memalukannya aku telat melampaui waktu yang sudah aku tentukan sendiri yaitu pukul 18.15. Karena mendekati pukul 18.00 aku pikir aku akan dapat giliran menyampaikan sekilas pendapat lalu sekalian say good bye ke kawan-kawan yang sore itu seperti sedang menuang air ke mulut botol tapi airnya justru lebih banyak mengucur ke bagian luar botol itu. Entah sebatas aku atau ada orang lain di forum tersebut yang menilai demikian. Hanya saja jika penilaian ini benar maka jalannya diskusi Buka Buku perlu diatur kembali. Memang, di sana apa pun boleh diungkapkan tapi jika respon satu dan banyak orang kemudian melenceng jauh dari pernyataan yang direspon aku pikir juga tidak sehat buat "dikonsumsi". Mula-mula seseorang menyajikan kutipan Karl Marx yang entah dari mana ia dapat (aku googling tidak ketemu), aku agak lupa bunyi ...

Definisi Adil

Kata "adil" definisinya selalu ditentukan menurut orang per orang. Adil menurut orang miskin tidak sama dengan adil dalam pikiran orang kaya. Maka, ketidakadilan yang berimplikasi dengan kemiskinan yang terjadi di negeri ini bisa jadi tidak ada dalam penglihatan para selebriti plus DPR kaya-raya, yang rumahnya dijarah akhir Agustus lalu itu. Terlepas dari hukum negara pun ajaran agama bahwa penjarahan itu perbuatan yang salah, aku, di dalam perasaanku yang geram atas nasib kurang baik ini, di mana melihat segelintir orang dengan mudahnya mendapatkan apa yang terbaik (menurut penilaian banyak orang)--misal saja pendidikan yang memadai, akses ke pekerjaan dengan upah melimpah, kemudahan membeli rumah untuk tinggal bersama pasangan setelah menikah--sebenarnya cukup puas mengetahui pejabat itu hartanya dijarah. Kalau perlu tidak hanya dijarah, tapi pastikan harta kekayaannya yang bermilyar-milyar itu terkuras dan dialihkan untuk membiayai kehidupan orang-orang yang sekadar ingin ...