Recap Januari
Januari dan berat. Tidak hanya tahun ini dua kata itu bergandengan. Kira-kira lima tahun ke belakang mereka mulai berdekatan. Hampir bersinonim. Namun tidak akan pernah terjadi yang demikian. Karena mungkin hanya aku yang bersepakat. Biarkan saja ini menjadi- pinjam kalimat Chairil Anwar- kesunyian masing-masing. Termasuk kesunyianku.
Di kurun waktu itu hingga sekarang, setiap penghujung tahun bukan bonus dari kantor yang didapat, melainkan rasa 'ketar-ketir' yang menghinggap. Pasalnya ketika tahun telah berganti ada hal yang berubah, tidak cuma usia Bumi, tapi kebijakan instansi. Wabil khusus perpajakan daerah. Kemudian ada di seberang sana biasanya pihak yang terdorong menanyakan pekerjaan yang belum selesai. Dua hal itu (pergantian kebijakan dan dorongan menagih pekerjaan) selalu menjadi kombinasi yang muncul dalam duniaku lima tahun terakhir.
"Mengapa harus demikian?" Aku bertanya dengan hati yang lelah. Kedua tanganku menengadah berlawanan arah. Lewat air muka aku tampak menyerah namun tetap marah.
Misalnya NJOP-PBB (Nilai Jual Objek Pajak - Pajak Bumi dan Bangunan), mengapa tidak tetap sama saja angkanya dengan tahun sebelumnya? Dan pihak-pihak di seberang sana tak perlu terpengaruh oleh kalender yang berganti.
Tidak. Aku terlalu menyalahkan hal di luar diriku. Meskipun kenaikan NJOP menyusahkan masyarakat umum dan teramat mulia ikut menolaknya, pekerjaan yang belum selesai adalah ketidakbecusanku. Itulah penyebab sebenarnya. Soal kemudian pikiran stres adalah efeknya saja. Maka, Januari menjadi berat.
Pertengahan Januari tahun ini menegaskannya. Hujan tumpah membabi buta. Air tidak betah berada di langit karena ia memang mencari tempat yang lebih rendah. Nahasnya, jalan raya, jalan gang sampai ruang tamu, kamar, dapur cukup lama menjadi tempat singgah air. Ya, banjir melanda kotaku, Pekalongan. Meski daerah tempat tinggalku masih terlindung dari air yang menggenang tinggi, tapi aku tetap merasakan basahnya di jalan beberapa kali. Hanya saja, penderitaan itu tetap kalah telak dengan para pengungsi, atau yang tidak mengungsi namun rumahnya didatangi "tamu" setiap musim penghujan tersebut.
Banjir. Kata itu agaknya sudah mengalami perluasan makna. Tidak lagi cuma bermakna "berair banyak dan deras, kadang-kadang meluap (tentang kali dan sebagainya)" (KBBI).
Informasi yang sekarang mudah didapat dan jumlahnya sangat banyak setiap harinya (bahkan kecepatan informasi-informasi 'mengalir' di media sosial bisa dihitung per menit) itu kita sebut banjir. Banjir informasi.
Aku melihat video orasi Kalis Mardiasih di Aksi Kamisan, ia dengan berani dan suaranya lantang menyuarakan penolakan atas program MBG. Selama berjam-jam aku menghabiskan waktu di Instagram menikmati banjir informasi dan lama-lama over capacity. Algoritmanya menguatkan arus yang membawa konten-konten yang mengkritik program MBG:
Tentang anggarannya yang fantastis, sudah begitu menyita cukup banyak dari anggaran pendidikan dan kesehatan; tentang makanannya yang tidak layak; kemudian ada yang menghitung harga satu paket MBG lebih kecil dari harga yang seharusnya.
Banyak kawan yang repost konten semacam itu. Dan semakin banyak aku melihat konten dan aksi yang demikian aku merasa putus asa. Aku tersenyum getir. Getir sekali. Sebelum besoknya aku melanjutkan bekerja. Sambil berkhayal meraup pundi-pundi keuntungan dari MBG. Aku tersenyum sendiri dan semakin getir.
Aku jadi penasaran algoritma para pekerja SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) terutama yang sudah diangkat menjadi ASN. Boleh jadi yang lewat di beranda Tiktoknya adalah pidato-pidato Presiden. Macam ketika beliau bilang (berdasarkan sebuah hasil survei): rakyat Indonesia bahagia- dengan framing sangat positif.
Negara utang yang nanggung rakyatnya. Rakyat berutang ditanggung sendiri-sendiri. "Kayak gitu gimana mau bahagia?" kataku yang juga rakyat ini.
Sejak era reformasi Indonesia sudah berutang. Mengutip dari buku Reset Indonesia, di masa presiden Megawati utang mencapai Rp 1.200 triliun. Sekarang jelas lebih besar. Mengingat proyek-proyek jaman presiden Joko Widodo seperti IKN membutuhkan anggaran besar, utang negara waktu itu Rp 8.400 triliun. Kabar menyedihkannya utang negara yang memakai obligasi itu memang mempunyai skema: utang waktu itu akan dibayar oleh generasi mendatang. Melalui apa? Pajak.
Kalau kamu sekarang sebagai orang Indonesia dan merasa bahagia paling tidak ada dua kemungkinan: 1. Nasibnya bagus, kondisi ekonomi aman dan nyaman, 2. Ekonomi sulit tapi qonaah.
Kepalaku dan kepala-kepala manusia masa kini sesak dengan informasi. Di arena media sosial selalu ada dua kutub yang beradu narasi. Dalam perkara MBG yang menyita anggaran pendidikan misalnya, itu ada narasi tandingannya. Corong informasi rezim yang tentu saja pro dengan kebijakan tersebut tidak tinggal diam. Dikatakan bahwa MBG tidak mengurangi anggaran pendidikan. Mereka pun bisa memperlihatkan datanya, anggaran pendidikan naik dari tahun sebelumnya. Pada akhirnya kita butuh menganalisa setiap narasi yang menyeruak di ruang-ruang maya.
Makanya banjir yang berair banyak dan deras itu aku sebut dengan banjir air saja. Meski hanya menemui banjir air di jalan-jalan yang aku lewati- tidak di rumah, rasanya tetap dongkol. Apalagi banyak jalan berlubang cukup dalam yang sering menghisap ban motorku.
Di saat banjir air melanda daratan di luar sana, banjir overthinking di pertengahan Januari memenuhi pikiranku. Di sebuah Sabtu aku enggan sekali membuka Whatsapp karena sumber tekanannya di sana. Aku meluapkan emosiku pada lantai kamar mandi. Sepenuh tenaga kusikat lumut-lumut brengsek yang menempel di muka keramik. Berharap beban pikiranku turut sirna. Memang energi yang seharusnya terkuras untuk mikir dapat teralihkan. Tapi, beban pikiran tetap saja tak berkurang.
Pekerjaan dari tahun lama yang belum selesai benar-benar dapat mengguncang batinku dengan getaran belasan Skala Richter. Sialnya tidak hanya satu tapi banyak pekerjaan yang demikian. Jika tidak bisa kuredam tsunami mungkin menerjang. Dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku jika benar.
Ketika banyak orang sudah memikirkan bagaimana meningkatkan penghasilan, aku bertahun-tahun berkutat dengan perkara brengsek semacam itu. Tidak usah melibatkan pengaruh media sosial. Lewat penglihatan dunia nyata seperti rumah temannya yang bagus, kaum mendang-mending seperti aku sudah berhasrat sekali buat sukses. Tapi alih-alih berupaya dengan cerdas- seringnya 'keras' saja- kaum mendang-mending hanya tiba pada sukses jalur khayalan.
Lalu, di mushola dekat rumah kami mendengarkan bapak ustaz ceramah, topiknya soal Yajuj-Majuj, Dajjal, Nabi Isa, dan- yes- kiamat. Pak Ustaz berkata dengan yakin, "Sebentar lagi. Dunia tidak pernah sekacau ini. Nabi Isa akan turun." Dengan begitu kaum mendang-mending untuk sementara waktu tidak terlalu berhasrat lagi untuk sukses di dunia.
Januari berat. Namun awal dan akhirnya memberiku damai dan ketenangan. Hari pertama bulan Januari aku datang ke tempat seorang tokoh agama Katolik untuk memenuhi undangan sebuah acara. Cukup lama aku tidak silaturahmi ke sana. Dulu ketika menyambangi beliau, kami bersalaman, duduk dan mengobrol, disuguh kopi buatannya dan nasi goreng yang dipesankan dari penjual di di depan pastoran. Namun pada awal tahun 2026 ini berbeda. Aku menyalaminya dan ia memelukku.
Pengalaman itu tidak akan aku lupakan. Sungguh, tokoh agama mana pun bahkan tokoh agamaku sendiri tidak pernah memperlakukanku sehangat itu. Meski demikian, jangan khawatir, aku akan tetap menjadi muslim.
Di penghujung Januari kemelut pikiran masih saja datang. Di saat itu sejam setelah Bernadya meluncurkan lagu baru berjudul Kita Buat Menyenangkan di Youtube, aku coba mendengarkan. Dari verse sampai pre chorus masih biasa saja, namun ketika sampai chorus aku menilai lagu ini bagus.
Kita buat menyenangkan
Di sisa waktu yang ada
Secara ajaib chorus itu melipur deritaku meskipun tidak sepenuhnya. Paduan lirik dan nadanya bagai bermuatan magis. Beban-beban mencair dan luruh bersama air mata.
Beban yang serupa aku yakin pasti akan datang lagi di lain waktu. Dan semoga chorus lagu itu tetap menenangkanku.
Bye, Januari.
Comments
Post a Comment