Perpusda Tutup

Di sisa hari pada bulan Desember, hari yang perlahan memungkas tahun terjadinya bencana banjir besar di Sumatra akibat deforestasi, aku pergi ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Pekalongan, dan berhenti di depan gerbang hitamnya yang tergembok.

Aku terangkan. Memang pekan ini ada libur Natal (Kamis) dan satu cuti bersama pasca Natal (Jumat). Tapi bukankah sudah semestinya Sabtu-Minggu perpusda buka? Bahkan jika mau lebih serius meningkatkan kualitas manusia di Kabupaten ini, Perpusda tidak menjadwalkan hari libur. Lah, ngga kasihan sama pegawainya, bang?

Hampir Dhuhur. Di tengah suasana Car Free Day (CFD) Kajen yang mulai sepi, aku bingung harus ke mana. Karena satu-satunya tujuanku dari rumah adalah menikmati buku di perpustakaan itu- sambil menyedot es kopi susu gula aren yang tadi kubeli.

Aku belokkan sepeda motorku ke kanan. Mengambil jalan di sisi seberang lalu keluar ke jalan raya dan entah mengapa aku berbelok ke arah Pendopo Kabupaten Pekalongan. Besar kemungkinan karena tempat itu yang masih terngiang dalam pikiranku, sebab baru kemarin berkegiatan di sana.

Tidak pernah sama sekali aku sengaja menyempatkan waktu mengitari CFD Kajen. Apalagi terpikir untuk menengok area taman depan Pendopo. Sehingga seketika itu aku terkejut sambil geram melihat serakan gelas plastik dalam selongsong kantong kresek kecil. Sungguh, benda itu adalah benda yang membuatku geram, tak hanya bendanya tapi beserta lifestyle membeli minuman kemasan plastik seperti es teh, es kopi, dan semacamnya, kau pasti tahu itu. Tak masalah sebenarnya. Asalkan lifestyle itu disertai kesadaran akan lingkungan.

Perpusda yang tutup di hari-hari di mana kebanyakan orang punya waktu luang adalah cermin dari ketidakseriusan pemda dalam melayani masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan. Salah satu di antara pengetahuan itu bisa jadi adalah perihal ekologi.

Terlepas dari kenyataan orang yang suka membaca buku tidak selalu bisa meminimalisir plastik. Bahkan, sekadar memulainya dari tindakan sederhana. Misal: tidak menerima kresek saat membeli apa pun, menghindari menggunakan wadah makanan atau minuman yang sekali pakai.

Jangan-jangan kita selama ini tidak menyadari kalau kita sedang hidup di planet Bumi. Saat kaki kita memijak tanah kita tidak sadar. Saat air masuk ke tubuh, kita tidak sadar. Apalagi saat unsur kehidupan utama manusia bersirkulasi dalam tubuh yaitu napas. Sulit kita menyadari.

Unsur-unsur tersebut tidak akan ada tanpa peran alam. Dan bagaimana alam bekerja tergantung dari manusia berperilaku. Kebaikan alam tidak akan ada jika tidak ada kebaikan manusia terhadapnya. Lah, siapa yang buat jahat ke alam, bang? Orang kita cuma makai plastik, ngga nebangin pohon di hutan?

Comments

Popular posts from this blog

Jose

Purwokerto

Melebar ke Mana (-mana)?