Dulu, Aku Ke Mana?
Jose dan aku menantikan roti bakar dan mie goreng yang sudah kami pesan sekitar satu jam yang lalu. Jose berbaring di kursi panjang sambil mengusap-usap layar HP-nya. Melihati hasil jepretan kamera yang menangkap gambar kami berdua di bawah dengan bantuan tripod dan bluetooth shutter.
Di bawah kami dan berombong kawanan anak muda juga sepasang kekasih seperti kami adalah pantai. Aku bersyukur karena masih dapat melihat pantai dan merasakan sentuhan lembut ombak meski bukan di daerahku sendiri, Pekalongan. Melainkan di Batang.
Semasa kecil di Pantai Ngeboom, Kota Pekalongan paling tidak setahun sekali aku bisa merasakan ombak yang sama. Namun terakhir aku ke sana alih-alih melihat pantai, yang ada malah tembok setinggi 2 meter menahan air laut agar tidak sampai di rumah-rumah di dekatnya. Gila! Jadi laut tersebut terlihat seperti kolam. Mengapa terjadi demikian aku kira tidak perlu dikatakan lagi. Sudah banyak informasi di internet soal kenaikan air laut di Pekalongan.
Di tengah kegembiraan menjumpai pantai di Batang, aku menunjuk sesuatu dan mengajak Jose pula buat melihatnya, meski samar: kapal-kapal tongkang mengapung di atas lautan, yang pasti membawa batu bara. Satu lagi; pendaran cahaya seperti kunang-kunang di kejauhan yang memanjakan mata pengunjung warung sekitar pantai: lampu-lampu dari kawasan industri, Proyek Strategis Nasional (PSN).
Di sisi itulah kami para penikmat pantai di Batang melihat realitas. Sama halnya seperti sisi orang-orang yang menikmati listrik PLTU terbesar di Asia Tenggara yang berada di daerah di mana kami bersantai saat itu tanpa tahu bahwa ada orang-orang bersedih, teriris perasaannya, akibat proyek PLTU.
"Tanah itu kan belum dijual- masih kepunyaan petani," ujar pria paruh baya, seorang petani, sembari menunjuk tanah sawah yang telah dipagari seng, terlihat pula plang bertuliskan "DILARANG MEMASUKI DAN/ATAU MEMANFAATKAN TANAH AREA PLTU. ANCAMAN PIDANA" lengkap dengan logo Perusahan Listrik Negara (PLN).
Orang-orang dalam scene film dokumenter Sexy Killers (2019) itu yang hanya rakyat kecil tidak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan tanah sawahnya. Selain petani, nelayan pun tidak lepas dari dampak PLTU yang mengancam sumber penghidupan satu-satunya mereka yaitu ikan.
"Kalau ada PLTU masa depan anak saya mau dibawa ke mana? Sudah tidak ada lagi tempat di Indonesia, kecuali di wilayah Batang. Gara-gara orang yang pandai. Gunungnya dijual dan tidak berpikir, laut ditanami besi, dibangun PLTU, pabrik banyak sekali..." keluh salah seorang nelayan dengan tangisan yang pada waktu itu khawatir akan pembangunan PLTU.
Aku yang belakangan hati dan pikirannya telah bertaut dengan isu-isu semacam itu mengingat ke belakang, ketika rakyat kecil tadi ditimpa kerugian atas proyek investasi-industri yang dibidani pemerintah angkuh, sedangkan keuntungan bermilyar rupiah dinikmati para pengusaha kaya, aku bertanya pada diri sendiri: dulu sebelum proyek ambisius berjalan seperti sekarang aku ke mana?
Pertanyaan itu tidak ingin memberi kesan bahwa aku bisa berguna seandainya di tahun-tahun yang lalu aku turut bersuara dan turut bergerak menolak PLTU. Bahkan gerakan yang sudah ada pun tidak mampu membendung. Sudah betul mungkin apa yang aku lakukan pada 2013 silam, aku yang pertama kali mendengar (rencana proyek) PLTU Batang dari guru SMK, ikut pelatihan kerja dalam bidang kelistrikan di BLK yang diselenggarakan pemerintah daerah Kabupaten Pekalongan dalam rangka menggapai lowongan pekerjaan, di sana, tempat di mana masyarakatnya seperti petani dan nelayan yang tidak berdaya membuatku menangis sekarang.
Comments
Post a Comment