Berhipotesis

Sebelum menikah bisa dibilang kita membuat hipotesis pada pasangan kita. Sepanjang periode pacaran kita tidak tahu bagaimana watak, kebiasaan, dinamika emosi pasangan secara sesungguhnya. Sebagian melakukan eksperimen bahkan berkesimpulan. Namun percayalah pengujian variabel-variabel tersebut di masa pacaran banyak muskilnya menghasilkan kesimpulan yang valid.

Contoh saja: sepasang kekasih yang ketika pacaran menyembunyikan kentutnya tidak berarti saat sudah hidup serumah akan lari keluar hanya untuk kentut. Mengeluarkan kentut, baik yang berbunyi atau sekadar berbau (busuk) adalah pekerjaan yang memalukan apabila dikerjakan di sekitar orang yang belum kita kenal. Tapi bukannya pacar adalah orang yang kita kenal, ya? Spesifik lagi, deh: di sekitar orang yang belum kita kenal atau sudah kita kenal tapi belum pernah mendengar pun mencium aroma kentut kita. Kecuali kentut tersebut baunya bunga lavender.

Contoh lain yang lebih dramatis. Seberapa besar pacar pernah marah dan apa penyebabnya? Atau justru tidak pernah marah? Tapi jangan kaget kalau sudah suami-istri marah itu akan mencuat dan lebih besar, lebih mudah tersulut. Bagi kaum mendang-mending penyebabnya biasanya faktor ekonomi.

Untuk itu, saat ini aku selalu menjaga kesiagaan, tidak mudah mempercayai utopia rumah tangga yang penuh ketenangan. Apalagi sinawang kepada Denny Caknan bersama istri-anaknya yang berlibur ke Jepang.

Aku lebih percaya pada apa yang diperdengarkan kedua orang tuaku. Cemooh yang sama sekali menyapu kebaikan-kebaikan yang pernah. Dibalas bentak yang meluruhkan senda-gurau di kala hati sejuk. Bunyi pintu yang tak pelan bertemu ambangnya.

Semua itu terekam abadi dalam memori otakku. Mengerak dan tak pernah mudah terkikis. Aku tidak percaya kedamaian rumah tangga namun pada saat yang sama aku adalah manusia pendamba kedamaian. Aku tidak suka dengan perkataan bahwa pertengkaran suami-istri itu hal wajar, bumbu pernikahan, bla bla bla. Bagiku, tidak sepatutnya orang menikah untuk bertengkar apalagi mewajarkan pertengkaran.

Maka, untukmu kekasihku, di kapal yang nanti akan terombang, dengan cara apa pun aku akan menciptakan kedamaian, meski kadang kala harus mengorbankan diri sendiri. Pengorbanan itu dalam sementara waktu tidak akan terlihat, namun aku yakin akan terakumulasi dan kelak tampak setampak-tampaknya. Tenang saja, aku akan selalu baik-baik saja. Anggap saja dinamika itu keniscayaan yang tak dapat dihindari. 

Memang agama menjadi stimulan yang mendorong manusia buat menikah, dan obat penenang paling mujarab untuknya mempertahankan pernikahan. Tapi, sebagai makhluk berakal dan punya dimensi materi, aku sebagai manusia berhak memberikan makna pada pernikahan dan rumah tangga yang kelak aku jalani bersama kekasihku.

Di tengah badai yang menghadang kapal kita, kejayaan menjadi visi dalam hidupku. Oleh karenanya kamu menjadi alasan untuk aku mengejar kejayaan di dunia ini. Sebab, kamulah perempuan dengan cita-cita besar, tidak akan urung aku menjadi tangga untukmu menggapainya. Meski saat ini aku cuma laki-laki lemah yang tergolong kelas menengah dan berisiko tersungkur, setidaknya aku masih punya akal, tenaga dan waktu. Denganmu aku menjadi lebih kuat. Aku pasti bisa jauh lebih baik dari sekarang. Keyakinan itu menjadi motor penggerakku, tentu saja sambil berhipotesis.

Comments

Popular posts from this blog

Jose

Purwokerto

Melebar ke Mana (-mana)?