Profesionalitas yang Lain

Kantor tempatku bekerja tidak seperti kantor pada umumnya dengan segala aturan-aturan tertulis dan tegas yang wajib dilaksanakan dan pantang ditinggalkan, meskipun ada pengecualian-pengecualian sebagai ketentuan tambahan. Di kantor lain mungkin jika karyawan ada keperluan keluarga yang urgen ia diperbolehkan izin meninggalkan pekerjaannya sebentar, asalkan tidak terus-terusan. Mungkin terdengar agak fleksibel. Namun di kantorku lebih fleksibel dari itu.

Kondisi yang lebih fleksibel itu berubah menjadi terlalu fleksibel, dan menurutku tidak sehat untuk keberlangsungan kantor. Misal, aku yang kadang di suatu pagi bingung ketika ada kerjaan yang perlu diselesaikan dan butuh rekan kerjaku, sedangkan ia belum datang ke kantor, dan menunggunya tidak sebentar. Padahal pagi hari waktu masih semangat-semangatnya. Namun, hal ini aku bahas di lain tulisan saja. Kali ini ada fenomena lain yang unik mau aku ceritakan.

Ada teman laki-laki di kantor yang telah berkeluarga, ia berangkat cukup siang dan pada jam tertentu ia menjemput anaknya pulang sekolah. Cukup rutin demikian. Tentu saja tidak ada teguran dari bos bahkan respon pun tidak ada. Adakah bos sebaik ini di kantor lain?

Lalu, ada lagi yang telah berkeluarga, namun teman satu ini belum punya anak. Belum ada anak maka istri pun bisa. Ia terkadang punya alasan pulang lebih awal demi menjemput istrinya dari tempat kerjanya. Lalu, ia sering tidak di kantor namun bukan melakukan hal yang berkaitan dengan pekerjaan kantor. Beberapa minggu setelah terposting, tulisan ini kusunting. Ingin menambahkan catatatan.

Suatu siang di sebuah Jumat. Sekantor sedang kalang-kabut karena si bos mendesak satu berkas dirampungkan. Maka, semua yang ada di situ disuruh membantu mengejarkan agar cepat bisa diatasi. Waktu itu aku tidak di tempat karena ada tugas lapangan. Meski begitu aku tetap kena imbas. Disuruh bantu juga. Padahal yang lebih paham adalah temanku. Seharusnya pengerjaan berkas tersebut waktu itu adalah bagian temanku. Tapi, temanku satu ini tidak datang ke kantor karena sedang membantu pekerjaan istrinya. Pikirku: wow! Profesional.

Aku minta maaf mungkin apa yang aku ungkapkan tadi terkesan menjelekkan orang lain. Namun sebetulnya, tidak hanya teman-temanku, over fleksibelitas itu digunakan oleh semua karyawan, termasuk aku sendiri. Aku pun sering keluar pas jam kerja buat kepentingan pribadiku.

Alih-alih berintikan soal keberlangsungan kantor, efektifitas pekerjaan, dan tentang mencari solusi agar kantor lebih baik, dalam tulisan ini aku mengemukakan apa yang tertangkap oleh pengamatanku; aku melihat pekerjaan yang bukan pekerjaan. Dan profesionalitas di dalamnya adalah untuk seorang "majikan" bernama keluarga. Baik temanku yang pertama pun kedua, keduanya sama-sama menampakkan sikap profesional terhadap istri. Bahkan, tak cuma karyawan, bosnya juga demikian.

Setelah manusia menikah dan berkeluarga seakan dengan sendirinya timbul selembar "kontrak kerja" yang tidak tertulis. Tentu tidak dibatasi waktu. Selama ikatan pernikahan dapat bertahan, selama itu pula kontrak ini berlaku. Di dalamnya paling tidak memuat bab-bab berikut: keuangan, waktu-waktu tertentu yang mengharuskan di rumah dan kapan diperbolehkannya berada di luar rumah, tugas suami dan istri, aktivitas apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, ada lagi? Dan sanksi yang berjalan secara otomatis tatkala emosi negatif mulai bermain.

Comments

Popular posts from this blog

Jose

Purwokerto

Melebar ke Mana (-mana)?