Posts

Malam Bulan Puasa

Di kecamatan ini, suasana malam di bulan Puasa dari awal abad 21 sampai sekarang tidak pernah berubah. Selalu bertabur kegiatan konfeksi di rumah-rumah. Dari ukuran besar sampai yang hanya terdiri dari satu keluarga. Mereka bergelut dengan kain-kain, menjahit baju dan lain-lain. Meski begitu, sejak cara manusia dalam menjual-belikan barang berkembang ke arah digital, ada wajah lain yang tampak di malam Ramadan, yaitu perpaketan atau ekspedisi. Geliatnya begitu besar. Sebab setiap hari selalu ada orang membeli barang dari toko online , tentu harus ada pihak yang menyediakan barangnya, para pejuang online shop lah pemainnya di lapangan baru ini. Mungkin dulu di awal trennya, aku melihatnya sebagai aksen saja. Tapi, sekarang sudah menjadi sesuatu yang primer. Mungkin orang lain merasa asyik dan senang dengan tren itu. Apalagi yang hobi berbelanja. Tapi, aku dan pikiranku-- yang aneh ini-- seperti belum bisa menerimanya. Perubahan yang terlampau mempermudah itu terlalu mengikis wajah lama...

Ketika Formalisme Dihadapkan pada Moral

Sekitar pukul tiga pagi perempuan berbusana serba kuning kunyit, tak berbeda seperti biasa di kepalanya terbalut kerudung yang khas, ia duduk di atas kursi roda, satu orang di belakangnya dan puluhan lagi mengikutinya berjalan menuju panggung. Di langit-langit gedung menggema lantunan yang sangat kita kenal dan mengenalnya sebagai syiir . Semua orang berdiri kecuali perempuan dengan kerudungnya yang khas itu. Lantunan berhenti dan semua duduk. Namun, kondisi duduknya ratusan orang di gedung itu berbeda-beda. Meskipun sama-sama menghadap sekotak nasi. Di antara mereka ada yang sudah kenyang-- rata-rata yang duduk di barisan belakang. Ada yang-- entah alasan mulia seperti taat aturan dari panitia, atau karena sungkan dan risih terlihat oleh orang-orang yang duduk di panggung-- bertahan tidak mengotak-atik apa yang ada di dalam kotak di depannya. Perempuan berkerudung kuning kunyit itu menunjuk tulisan di belakang panggung; judul acara pagi itu. Orang-orang di depannya termasuk aku tentu ...

Yang Kubawa Pulang

Sempurna. Hari ini terpungkasi dengan guyuran hujan deras ke tubuh lunglaiku. Kilat berkejap-kejap, mataku menangkap cahaya putih berkali-kali, dan petir menggelegar angkuh. Menyusuri aspal yang compang-camping, perasaan takut menyusup ke dalam nyaliku, namun tak terkalahkan oleh galau yang sejak tadi sore kubawa dari Purwokerto. Sepanjang perjalanan, stasiun demi stasiun, tidak ada yang kupikirkan selain percakapanku dengan Jose di atas meja Calf. Sepanjang perjalanan kereta Joglosemarkerto pikiranku seperti tumpukan sampah di TPS yang bercampur tidak karuan. Entah mengapa aku sangat khusyu menatap layar monitor di arah jam dua gerbong Ekonomi 5. Menerima apa pun yang ditampilkan di sana meski tanpa suara. Sehingga yang kudengar adalah suara roda kereta, kutambah lagu-lagu Naif yang sengaja kuputar di Youtube dan kudengarkan lewat earphone . Suara David Bayu kupikir paling cocok buat suasana hati saat ini. *** Sesungguhnya ban motor yang menghindar dan terperosok ke dalam lubang-luban...

MBG Lagi, MBG Lagi

Motif Makan Bergizi Gratis (MBG) selain pemenuhan gizi, adalah penyeragaman. Sekarang anak-anak mengalami penyeragaman berlapis. Setelah sistem pendidikan yang sudah cukup menyeragamkan pikiran, kini MBG masuk sekolah dan secara tidak langsung anasir militer pun disusupkan di sana. Militer, kita tahu memakai sistem satu komando. Sangat kental sekali dengan penyeragaman di aspek apa pun itu. Sifat militer yang begitu tidak salah. Karena, itu berkaitan dengan fungsinya dalam menjaga keutuhan negara dari ancaman eksternal. Namun, yang salah ialah menerapkan style militer ke dalam kehidupan sipil. Setahun lebih usia rezim Prabowo Subianto seharusnya kita telah menyadari bahwa dirinya yang sangat mencintai dunia militer tersebut ingin sharing kecintaannya ke seluruh rakyat Indonesia. Lewat MBG inilah salah satunya. Food tray stainless-steel adalah nama lain dari yang pekerja SPPG sebut sebagai 'ompreng'. Apakah kita, orang sipil familiar dengan food tray stainless-steel ? Aku kira...

Recap Januari

Januari dan berat. Tidak hanya tahun ini dua kata itu bergandengan. Kira-kira lima tahun ke belakang mereka mulai berdekatan. Hampir bersinonim. Namun tidak akan pernah terjadi yang demikian. Karena mungkin hanya aku yang bersepakat. Biarkan saja ini menjadi- pinjam kalimat Chairil Anwar- kesunyian masing-masing. Termasuk kesunyianku. Di kurun waktu itu hingga sekarang, setiap penghujung tahun bukan bonus dari kantor yang didapat, melainkan rasa 'ketar-ketir' yang menghinggap. Pasalnya ketika tahun telah berganti ada hal yang berubah, tidak cuma usia Bumi, tapi kebijakan instansi. Wabil khusus perpajakan daerah. Kemudian ada di seberang sana biasanya pihak yang terdorong menanyakan pekerjaan yang belum selesai. Dua hal itu (pergantian kebijakan dan dorongan menagih pekerjaan) selalu menjadi kombinasi yang muncul dalam duniaku lima tahun terakhir. "Mengapa harus demikian?" Aku bertanya dengan hati yang lelah. Kedua tanganku menengadah berlawanan arah. Lewat air muka...

Perpusda Tutup

Di sisa hari pada bulan Desember, hari yang perlahan memungkas tahun terjadinya bencana banjir besar di Sumatra akibat deforestasi, aku pergi ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Pekalongan, dan berhenti di depan gerbang hitamnya yang tergembok. Aku terangkan. Memang pekan ini ada libur Natal (Kamis) dan satu cuti bersama pasca Natal (Jumat). Tapi bukankah sudah semestinya Sabtu-Minggu perpusda buka? Bahkan jika mau lebih serius meningkatkan kualitas manusia di Kabupaten ini, Perpusda tidak menjadwalkan hari libur. Lah, ngga kasihan sama pegawainya, bang? Hampir Dhuhur. Di tengah suasana Car Free Day (CFD) Kajen yang mulai sepi, aku bingung harus ke mana. Karena satu-satunya tujuanku dari rumah adalah menikmati buku di perpustakaan itu- sambil menyedot es kopi susu gula aren yang tadi kubeli. Aku belokkan sepeda motorku ke kanan. Mengambil jalan di sisi seberang lalu keluar ke jalan raya dan entah mengapa aku berbelok ke arah Pendopo Kabupaten Pekalongan. Besar kemungkinan karena tempat i...

Dulu, Aku Ke Mana?

Jose dan aku menantikan roti bakar dan mie goreng yang sudah kami pesan sekitar satu jam yang lalu. Jose berbaring di kursi panjang sambil mengusap-usap layar HP-nya. Melihati hasil jepretan kamera yang menangkap gambar kami berdua di bawah dengan bantuan tripod dan bluetooth shutter. Di bawah kami dan berombong kawanan anak muda juga sepasang kekasih seperti kami adalah pantai. Aku bersyukur karena masih dapat melihat pantai dan merasakan sentuhan lembut ombak meski bukan di daerahku sendiri, Pekalongan. Melainkan di Batang. Semasa kecil di Pantai Ngeboom, Kota Pekalongan paling tidak setahun sekali aku bisa merasakan ombak yang sama. Namun terakhir aku ke sana alih-alih melihat pantai, yang ada malah tembok setinggi 2 meter menahan air laut agar tidak sampai di rumah-rumah di dekatnya. Gila! Jadi laut tersebut terlihat seperti kolam. Mengapa terjadi demikian aku kira tidak perlu dikatakan lagi. Sudah banyak informasi di internet soal kenaikan air laut di Pekalongan. Di tengah kegembi...