Posts

Swasembada Pangan, Papua Jadi Korban

Tanah Papua paling tidak dari tahun 1967 sudah "diperkosa" oleh negara Indonesia. Entah apa salah rakyat Papua sehingga mereka kerap dikorbankan demi keinginan pemerintah pusat Indonesia. Katanya untuk kepentingan bangsa. Benarkah? Kalau iya, jangan-jangan kita yang berada di luar Papua diam-diam sudah menikmati hasil dari "pemerkosaan" itu. 1967. Lewat rezim Orde Baru, di dataran setinggi 4000 mdpl PT Freeport mengeruk emas dan tembaga yang dijual tanpa memberi untung masyarakat sekitar. Tanah tersebut berada di wilayah Papua Barat, yang baru masuk dalam NKRI tahun 1969. Ini adalah mula-mula pengorbanan rakyat Papua untuk negara yang waktu itu mengalami krisis ekonomi. Sekarang. Melalui rezim Prabowo dengan ambisi swasembada pangannya, atau di era Jokowi dengan program lumbung pangan seluas 1,2 juta hektar, Papua kembali dikorbankan. Kali ini untuk ketahanan pangan entah di tengah krisis apa, yang belum terjadi. Pendahulu mereka, SBY pada 2010 lebih-lebih Soeharto ...

Satpam Perempuan di Hari Kartini

Setiap hari ke-21 bulan April, bukan pemandangan yang asing ketika guru-guru perempuan di sekolah atau staf perempuan di kantor-kantor pada memakai kebaya. Tapi kalau satpamnya pun memakai kebaya? ini baru pertama aku melihatnya. Tepatnya tadi siang di Kantor Pertanahan Kabupaten Pemalang. Di sana memang ada satpam perempuan yang biasanya memakai pakaian dinasnya yang khas. Namun khusus hari istimewa ini, ia menyambut kedatangan para pengurus dokumen tanah memakai bawahan kain jarik dan atasannya baju kebaya. Kejadian itu akhirnya membuatku memikirkan hal yang sama dengan apa yang diunggah oleh akun IG @mprogmedia hari ini. Akun yang getol membahas feminisme ini menuliskan: Kartini bukan sekadar kebaya. "Parade" kebaya yang dilakukan tiap tahun di tanggal kelahiran Raden Ajeng Kartini menurutnya adalah hasil penjinakan pemikiran politik Kartini oleh Orde Baru. Atau Fahrudin Faiz mengatakan, itu aksiden. Esensinya juga harus ditangkap. Di Indonesia, pekerjaan satpam didominas...

Tunggu Aku Sukses Nanti Itu Manifesto Komunis

Bukan satu pun film horor-- yang menakutkan-- sehingga membuatku ingin beranjak dari kursi dan keluar dari studio di mana sebuah film sedang diputar. Melainkan sekadar drama keluarga bertajuk Tunggu Aku Sukses Nanti  (TASN). Apalagi nontonnya bersama calon istri. Di tengah momen menjelang pernikahan yang beberapa bulan lagi. Dengan kesiapan pembiayaan tidak sampai angka 10% dari rencana anggaran yang sudah dibuat untuk konsep acara sedemikian rupa. Apa sih yang ditampilkan film itu sampai begitu menakutkannya? Sebenarnya tidak literally menakutkan. Minimal dengan cerita tokoh utama yang sudah lama menganggur kemudian mendapat pekerjaan, dan di waktu ia telah bergaji pacarnya bilang, "Jangan lupa nabung buat kita, ya"; Dan, ketika saldo dalam layar mesin ATM tokoh utama menjadi jauh lebih banyak dari saldoku yang sebentar lagi harus menggelar pernikahan... itu cukup membuat wajahku tidak bisa bersembunyi dari rasa malu yang tidak tampak dalam gelapnya studio namun sebenarnya ...

Mencitrakan Sopir Truk

Seorang pria paruh baya tergeletak di ranjang sakit, badannya lemah, infus menempel di lengan, ia memaling muka dari tatapan langit-langit, meringis kesakitan di antara selang di mana ada darah bersirkulasi. Darah pria itu. Ia menangis. Kuketahui ia adalah sopir truk ketika scene berikutnya membawa tubuhnya yang membaik masuk ke dalam kabin lalu duduk di belakang setir. Tangannya gemetar. Aku pikir pasti karena sakitnya. Ponsel yang digenggamnya menampilkan nama "Tiwi" dalam layar panggilan yang tidak kunjung dijawab. Pria itu gundah. Belakangan aku baru tahu Tiwi adalah nama anaknya. Tepatnya saat ia terbaring di ranjang sakit bukan dalam rangka cuci darah, tapi setelah tubuhnya tumbang di sela pekerjaannya menurunkan beban dari dalam bak truk. Tak terhitung berapa kali aku mengulang adegan-adegan itu dan sesering itu pula air mataku tak terbendung. Satu komentar di video klip Sal Priadi itu berbunyi: "kalau punya lagu sedih itu video klipnya tolong jangan sedih-sedih ...

Oh, Fadia Arafiq

Jangan berlebihan merayakan sesuatu. Itulah kalimat yang relevan buat masyarakat Pekalongan. Diksi "merayakan" pun kiranya sudah tepat. Bentuk perayaannya beraneka macam. Dari memasang spanduk di tempat umum dengan ucapan terima kasih pada KPK, sampai bagi takjil sebagai syukuran. Usai ditetapkan jadi tersangka kasus korupsi (detil kasusnya bisa disimak di banyak media), terpampang di jagat medsos Fadia Arafiq, bupati Pekalongan mengenakan rompi oranye dengan kerudung menutupi hampir seluruh wajahnya. Aku hanya melihat sebelah matanya menyeruak di antara keriuhan- pertanyaan hingga hujatan (oleh netizen). Mengemukanya kasus rasuah Bupati Pekalongan tidak cuma menandakan adanya penyalahgunaan wewenang. Berdasar konferensi pers KPK, belasan milyar uang dari perusahaan keluarga bupati, yang mana hasil penyalahgunaan wewenang jabatan tersebut, mengalir kepada Fadia dan keluarganya. Belasan milyar, bayangkan! Sementara warga Kabupaten Pekalongan masih banyak yang miskin. Mengemuka...

Merangkai Puzzle G30S

Terakhir, dua tahun lalu, aku agak serius mengkaji sejarah peristiwa Gerakan 30 September, lewat literatur seadanya. Buku yang sempat aku gunakan antara lain: Kudeta 1 Oktober (Anderson & Mcvey, 2017); Peristiwa G30SPKI: 60 Hari yang Mengguncang Dunia (Tim Dewan Pakar DPP Laskar Ampera, 2018). Karena hanya agak serius, upaya pengkajian itu tidak tuntas. Namun, selalu ada keinginan untuk melakukannya lagi. Dan memang secara kontinyu aku masih menggapai-gapai fakta yang berseliweran. Walaupun tidak lewat sumber fisik. Lebih sering dapat dari media digital. Seperti baru saja aku tercerahkan sedikit melalui artikel Muhidin M. Dahlan (sebelumnya terbit di Mojok tanggal 11 Maret 2026) yang ia posting dalam bentuk carousel di Instagramnya. Gus Muh sebenarnya lebih menonjolkan apa yang terjadi pada Iran di masa 1950-an. Di mana PKI memberi dukungan kepada Iran lewat partai kiri Tudeh yang terakomodir dalam pemerintahan Mossadeq yang saat itu tengah akan digulingkan oleh imperialisme Amer...

Malam Bulan Puasa

Di kecamatan ini, suasana malam di bulan Puasa dari awal abad 21 sampai sekarang tidak pernah berubah. Selalu bertabur kegiatan konfeksi di rumah-rumah. Dari ukuran besar sampai yang hanya terdiri dari satu keluarga. Mereka bergelut dengan kain-kain, menjahit baju dan lain-lain. Meski begitu, sejak cara manusia dalam menjual-belikan barang berkembang ke arah digital, ada wajah lain yang tampak di malam Ramadan, yaitu perpaketan atau ekspedisi. Geliatnya begitu besar. Sebab setiap hari selalu ada orang membeli barang dari toko online , tentu harus ada pihak yang menyediakan barangnya, para pejuang online shop lah pemainnya di lapangan baru ini. Mungkin dulu di awal trennya, aku melihatnya sebagai aksen saja. Tapi, sekarang sudah menjadi sesuatu yang primer. Mungkin orang lain merasa asyik dan senang dengan tren itu. Apalagi yang hobi berbelanja. Tapi, aku dan pikiranku-- yang aneh ini-- seperti belum bisa menerimanya. Perubahan yang terlampau mempermudah itu terlalu mengikis wajah lama...