Mencitrakan Sopir Truk
Seorang pria paruh baya tergeletak di ranjang sakit, badannya lemah, infus menempel di lengan, ia memaling muka dari tatapan langit-langit, meringis kesakitan di antara selang di mana ada darah bersirkulasi. Darah pria itu. Ia menangis. Kuketahui ia adalah sopir truk ketika scene berikutnya membawa tubuhnya yang membaik masuk ke dalam kabin lalu duduk di belakang setir. Tangannya gemetar. Aku pikir pasti karena sakitnya. Ponsel yang digenggamnya menampilkan nama "Tiwi" dalam layar panggilan yang tidak kunjung dijawab. Pria itu gundah. Belakangan aku baru tahu Tiwi adalah nama anaknya. Tepatnya saat ia terbaring di ranjang sakit bukan dalam rangka cuci darah, tapi setelah tubuhnya tumbang di sela pekerjaannya menurunkan beban dari dalam bak truk. Tak terhitung berapa kali aku mengulang adegan-adegan itu dan sesering itu pula air mataku tak terbendung. Satu komentar di video klip Sal Priadi itu berbunyi: "kalau punya lagu sedih itu video klipnya tolong jangan sedih-sedih ...