Posts

Yang Kubawa Pulang

Sempurna. Hari ini terpungkasi dengan guyuran hujan deras ke tubuh lunglaiku. Kilat berkejap-kejap, mataku menangkap cahaya putih berkali-kali, dan petir menggelegar angkuh. Menyusuri aspal yang compang-camping, perasaan takut menyusup ke dalam nyaliku, namun tak terkalahkan oleh galau yang sejak tadi sore kubawa dari Purwokerto. Sepanjang perjalanan, stasiun demi stasiun, tidak ada yang kupikirkan selain percakapanku dengan Jose di atas meja Calf. Sepanjang perjalanan kereta Joglosemarkerto pikiranku seperti tumpukan sampah di TPS yang bercampur tidak karuan. Entah mengapa aku sangat khusyu menatap layar monitor di arah jam dua gerbong Ekonomi 5. Menerima apa pun yang ditampilkan di sana meski tanpa suara. Sehingga yang kudengar adalah suara roda kereta, kutambah lagu-lagu Naif yang sengaja kuputar di Youtube dan kudengarkan lewat earphone . Suara David Bayu kupikir paling cocok buat suasana hati saat ini. *** Sesungguhnya ban motor yang menghindar dan terperosok ke dalam lubang-luban...

MBG Lagi, MBG Lagi

Motif Makan Bergizi Gratis (MBG) selain pemenuhan gizi, adalah penyeragaman. Sekarang anak-anak mengalami penyeragaman berlapis. Setelah sistem pendidikan yang sudah cukup menyeragamkan pikiran, kini MBG masuk sekolah dan secara tidak langsung anasir militer pun disusupkan di sana. Militer, kita tahu memakai sistem satu komando. Sangat kental sekali dengan penyeragaman di aspek apa pun itu. Sifat militer yang begitu tidak salah. Karena, itu berkaitan dengan fungsinya dalam menjaga keutuhan negara dari ancaman eksternal. Namun, yang salah ialah menerapkan style militer ke dalam kehidupan sipil. Setahun lebih usia rezim Prabowo Subianto seharusnya kita telah menyadari bahwa dirinya yang sangat mencintai dunia militer tersebut ingin sharing kecintaannya ke seluruh rakyat Indonesia. Lewat MBG inilah salah satunya. Food tray stainless-steel adalah nama lain dari yang pekerja SPPG sebut sebagai 'ompreng'. Apakah kita, orang sipil familiar dengan food tray stainless-steel ? Aku kira...

Recap Januari

Januari dan berat. Tidak hanya tahun ini dua kata itu bergandengan. Kira-kira lima tahun ke belakang mereka mulai berdekatan. Hampir bersinonim. Namun tidak akan pernah terjadi yang demikian. Karena mungkin hanya aku yang bersepakat. Biarkan saja ini menjadi- pinjam kalimat Chairil Anwar- kesunyian masing-masing. Termasuk kesunyianku. Di kurun waktu itu hingga sekarang, setiap penghujung tahun bukan bonus dari kantor yang didapat, melainkan rasa 'ketar-ketir' yang menghinggap. Pasalnya ketika tahun telah berganti ada hal yang berubah, tidak cuma usia Bumi, tapi kebijakan instansi. Wabil khusus perpajakan daerah. Kemudian ada di seberang sana biasanya pihak yang terdorong menanyakan pekerjaan yang belum selesai. Dua hal itu (pergantian kebijakan dan dorongan menagih pekerjaan) selalu menjadi kombinasi yang muncul dalam duniaku lima tahun terakhir. "Mengapa harus demikian?" Aku bertanya dengan hati yang lelah. Kedua tanganku menengadah berlawanan arah. Lewat air muka...

Perpusda Tutup

Di sisa hari pada bulan Desember, hari yang perlahan memungkas tahun terjadinya bencana banjir besar di Sumatra akibat deforestasi, aku pergi ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Pekalongan, dan berhenti di depan gerbang hitamnya yang tergembok. Aku terangkan. Memang pekan ini ada libur Natal (Kamis) dan satu cuti bersama pasca Natal (Jumat). Tapi bukankah sudah semestinya Sabtu-Minggu perpusda buka? Bahkan jika mau lebih serius meningkatkan kualitas manusia di Kabupaten ini, Perpusda tidak menjadwalkan hari libur. Lah, ngga kasihan sama pegawainya, bang? Hampir Dhuhur. Di tengah suasana Car Free Day (CFD) Kajen yang mulai sepi, aku bingung harus ke mana. Karena satu-satunya tujuanku dari rumah adalah menikmati buku di perpustakaan itu- sambil menyedot es kopi susu gula aren yang tadi kubeli. Aku belokkan sepeda motorku ke kanan. Mengambil jalan di sisi seberang lalu keluar ke jalan raya dan entah mengapa aku berbelok ke arah Pendopo Kabupaten Pekalongan. Besar kemungkinan karena tempat i...

Dulu, Aku Ke Mana?

Jose dan aku menantikan roti bakar dan mie goreng yang sudah kami pesan sekitar satu jam yang lalu. Jose berbaring di kursi panjang sambil mengusap-usap layar HP-nya. Melihati hasil jepretan kamera yang menangkap gambar kami berdua di bawah dengan bantuan tripod dan bluetooth shutter. Di bawah kami dan berombong kawanan anak muda juga sepasang kekasih seperti kami adalah pantai. Aku bersyukur karena masih dapat melihat pantai dan merasakan sentuhan lembut ombak meski bukan di daerahku sendiri, Pekalongan. Melainkan di Batang. Semasa kecil di Pantai Ngeboom, Kota Pekalongan paling tidak setahun sekali aku bisa merasakan ombak yang sama. Namun terakhir aku ke sana alih-alih melihat pantai, yang ada malah tembok setinggi 2 meter menahan air laut agar tidak sampai di rumah-rumah di dekatnya. Gila! Jadi laut tersebut terlihat seperti kolam. Mengapa terjadi demikian aku kira tidak perlu dikatakan lagi. Sudah banyak informasi di internet soal kenaikan air laut di Pekalongan. Di tengah kegembi...

Berhipotesis

Sebelum menikah bisa dibilang kita membuat hipotesis pada pasangan kita. Sepanjang periode pacaran kita tidak tahu bagaimana watak, kebiasaan, dinamika emosi pasangan secara sesungguhnya. Sebagian melakukan eksperimen bahkan berkesimpulan. Namun percayalah pengujian variabel-variabel tersebut di masa pacaran banyak muskilnya menghasilkan kesimpulan yang valid. Contoh saja: sepasang kekasih yang ketika pacaran menyembunyikan kentutnya tidak berarti saat sudah hidup serumah akan lari keluar hanya untuk kentut. Mengeluarkan kentut, baik yang berbunyi atau sekadar berbau (busuk) adalah pekerjaan yang memalukan apabila dikerjakan di sekitar orang yang belum kita kenal. Tapi bukannya pacar adalah orang yang kita kenal, ya? Spesifik lagi, deh: di sekitar orang yang belum kita kenal atau sudah kita kenal tapi belum pernah mendengar pun mencium aroma kentut kita. Kecuali kentut tersebut baunya bunga lavender. Contoh lain yang lebih dramatis. Seberapa besar pacar pernah marah dan apa penyebabnya...

Farid dan Benaya Hanya Berhenti

Berhenti di perempatan Ponolawen dari arah utara itu rasanya tidak nyaman. Menunggu lampu hijau di perempatan yang mempertemukan truk-truk besar tersebut hampir seperti menunggu portal kereta api terbuka setelah dua ekor kereta melintas. Lama sekali. Dan itu juga yang akhirnya membikin cemas. Karena truk-truk besar tadi. Sesekali aku menengok spion, memastikan di belakang truk-truk yang searah mengaspal dengan aman. Berhenti cukup erat kaitannya dengan 'rampung' dan 'selesai'. Lukisan yang rampung tidak selalu bisa dikatakan selesai. 'Rampung' adalah keadaan di mana pelukis memilih berhenti di tengah keinginan untuk terus-menerus melanjutkan lukisannya. Kau dapat lebih mengerti (atau malah kurang mengerti?) Goenawan Mohamad menjelaskan itu dalam teks pidatonya berjudul "Fragmen: Peristiwa" yang tergabung di bukunya  Pada Masa Intoleransi . Kecepatan kendaraan 0 km/jam di lampu merah tidak berarti perjalanan pengendaranya sudah selesai atau sampai tuju...