Farid dan Benaya Hanya Berhenti
Berhenti di perempatan Ponolawen dari arah utara itu rasanya tidak nyaman. Menunggu lampu hijau di perempatan yang mempertemukan truk-truk besar tersebut hampir seperti menunggu portal kereta api terbuka setelah dua ekor kereta melintas. Lama sekali. Dan itu juga yang akhirnya membikin cemas. Karena truk-truk besar tadi. Sesekali aku menengok spion, memastikan di belakang truk-truk yang searah mengaspal dengan aman.
Berhenti cukup erat kaitannya dengan 'rampung' dan 'selesai'. Lukisan yang rampung tidak selalu bisa dikatakan selesai. 'Rampung' adalah keadaan di mana pelukis memilih berhenti di tengah keinginan untuk terus-menerus melanjutkan lukisannya. Kau dapat lebih mengerti (atau malah kurang mengerti?) Goenawan Mohamad menjelaskan itu dalam teks pidatonya berjudul "Fragmen: Peristiwa" yang tergabung di bukunya Pada Masa Intoleransi.
Kecepatan kendaraan 0 km/jam di lampu merah tidak berarti perjalanan pengendaranya sudah selesai atau sampai tujuan. Atau, berhenti di lampu merah tidak mengartikan seseorang merampungkan perjalanannya, lebih-lebih karena ia tidak mau berlebihan menyusuri jalan. Namun, bukan perhentian macam itu yang mau kumaksud.
Sebelum aku melintasi perempatan Ponolawen, hadirku baru saja mengisi ruang belajar bersama di kedai kopi Bumi Suja: bedah buku Reset Indonesia karya empat jurnalis yang tergabung dalam ekspedisi Indonesia Baru. Namun, belum rampung acara itu aku berhenti menyimak paparan dari Farid Gaban dan Benaya Harobu (salah dua dari empat jurnalis yang hadir). Mengapa?
Alasan pertama, karena aku sudah bilang ke kekasihku di kejauhan sana, untuk tidak pulang terlalu larut malam. Apa urusannya, biar aku dan dia saja yang tahu. Sebelum beranjak ke alasan kedua aku ingin mengatakan kalau acara itu dilimpahi pengetahuan. Seperti yang dikatakan Farid Gaban di sana kalau gagasan hasil dari ekspedisi mereka yang dituangkan dalam Reset Indonesia menggabungkan sumber primer yaitu empirik dan sekunder (data-data).
Aku mantap memutuskan berhenti menyimak dan pulang setelah Benaya mengungkap bahwa investasi kawasan industri di Indonesia yang digadang menyerap banyak tenaga kerja itu pada kenyataannya makin ke sini kuantitas serapnya justru terjun bebas. Dalam buku Reset Indonesia halaman 78 menyebut Kajian Kamar Dagang Indonesia pada 2013 menunjukkan bahwa setiap Rp 1 triliun investasi bisa menyerap 4.500 tenaga kerja. Namun pada 2021 turun menjadi 1.300 orang.
Di sisi lain, sektor pertanian dan kelautan sudah tidak menjadi idaman sebagian besar anak muda di Indonesia. Itu alasan kedua.
Dari limpahan pengetahuan di dalam forum itu aku memilih tidak mengambil semua. Atau sebaliknya, tidak semua dapat aku ambil. Terlalu banyak pengalaman yang dua jurnalis itu punya untuk dibagikan. Bahkan ketika mereka malam ini selesai memaparkan gagasan Reset Indonesia, terlalu naif untuk mengatakannya selesai. Aku berhenti. Meminjam pendapat Goenawan Mohamad tadi, 'rampung'. Farid dan Benaya hanya rampung, bukan selesai.
Comments
Post a Comment