Fasilitasi
Langkah berjalan mundur cepat, waktu tergulung, tahun-tahun terlipat, lalu berhenti di masa ketika aku duduk di bangku paling depan mengerjakan soal ujian tengah semester kelas 3 SMP. Hanya ada beberapa benda yang legal berada di atas meja; kertas folio bergaris, pulpen, penghapus pena, dan lembar soal ujian. Namun aku kecewa berat, karena soal yang tercantum di lembar itu berbeda sama sekali dengan apa yang sudah aku pelajari (atau hapalkan?) semalam. Kesal; merpati dari kertas yang biasanya dibuat dari lembaran buku yang tidak terpakai, saat itu kubuat dari kertas soal ujian. Pikirku dahulu mungkin: membuat kertas soal itu menjadi merpati adalah lebih baik daripada meremasnya. Namun, ibu guru pengawas tetap saja tidak respect dengan perbuatanku. Pesannya: hargailah yang mengetik soal di kertas itu. Aku merasa bersalah, menyesal telah melakukannya. Padahal kalau dipikir-pikir sekarang waktu itu aku kecewa dengan sesuatu yang tidak begitu berkualitas dalam proses pendidikan seorang ma...