Yang Kubawa Pulang
Sempurna. Hari ini terpungkasi dengan guyuran hujan deras ke tubuh lunglaiku. Kilat berkejap-kejap, mataku menangkap cahaya putih berkali-kali, dan petir menggelegar angkuh.
Menyusuri aspal yang compang-camping, perasaan takut menyusup ke dalam nyaliku, namun tak terkalahkan oleh galau yang sejak tadi sore kubawa dari Purwokerto.
Sepanjang perjalanan, stasiun demi stasiun, tidak ada yang kupikirkan selain percakapanku dengan Jose di atas meja Calf. Sepanjang perjalanan kereta Joglosemarkerto pikiranku seperti tumpukan sampah di TPS yang bercampur tidak karuan.
Entah mengapa aku sangat khusyu menatap layar monitor di arah jam dua gerbong Ekonomi 5. Menerima apa pun yang ditampilkan di sana meski tanpa suara. Sehingga yang kudengar adalah suara roda kereta, kutambah lagu-lagu Naif yang sengaja kuputar di Youtube dan kudengarkan lewat earphone. Suara David Bayu kupikir paling cocok buat suasana hati saat ini.
***
Sesungguhnya ban motor yang menghindar dan terperosok ke dalam lubang-lubang aspal menggangguku menikmati kegalauan. Kilat, petir, hujan membuatku makin sedih. Namun air mata membeku. Hujan yang ramai bertetesan di wajahku kuanggapnya sebagai penegas kesedihan. Bukan untuk menggantikan air mata. Berlusin-lusin titik air itu hanya meningkahi perasaan yang tengah berkecamuk.
Aku merasa hujan semena-mena mengguyurkan air dengan derasnya kepada seseorang yang tengah galau ini. Aku terlalu lemah untuk memprotesnya. Kubiarkan saja. Karena dengan itu kesedihanku semakin ditegaskan.
***
Sebelum inti pembicaraan di atas meja Calf berlangsung, aku telah siap dengan respon Jose mendengar keterbukaan yang aku sampaikan. Sebuah keterbukaan yang buruk. Namun apa pun itu harus kusampaikan, meskipun berat dan cukup terlambat.
Kepalaku panas. Apalagi setiap kali Jose mengungkapkan kekecewaannya sembari tidak bisa menutupi rasa kesal lewat air mukanya. Ia mungkin sempat menangis juga. Sedangkan aku sama sekali tidak bisa menenangkannya di saat aku sendiri penyebab rasa kesal itu.
Di sebelah kami laki-laki dan perempuan remaja sedang mengobrolkan perkara kuliah mereka. Entah berapa jumlah mereka aku tidak sempat menghitung. Aku bahkan hampir tidak bisa menyadari kehadiran mereka. Aku pikir mereka juga sedikit memperhatikan dua orang di samping mereka tengah penuh gundah-gulana. Memperhatikan saat tanganku menangkup tangan Jose. Ia memintaku demikian. Dan mengatakan, bahwa alam semesta akan menyerap energi kami. Daun-daun, lumut-lumut, udara, semuanya.
Momen itu adalah awal bagaimana aku mulai berani belajar mempraktikkan secuil bagian dari kehidupan "seatap". Walaupun sebenarnya karakterku tidak sepenuhnya terbuka. Tapi, lewat perjalanan hidup yang lampau aku sudah belajar pentingnya terbuka. Apalagi ini menyangkut dengan Jose, kekasihku. Seseorang yang akan ke mana pun bersamaku.
Dari pertama bertemu hingga sekarang, aku menyadari perubahan sikap Jose kepadaku. Dan aku pun dari dalam diri beringsut berubah. Ini bentuk penyeimbangan langkah dua manusia yang berjalan bersama dan dipersatukan oleh segunung hal yang dipikulnya bersama pula. Bayangkan jika tidak seimbang, pasti oleng. Semoga apa pun yang menjumpai perjalananku bersama Jose kami selalu bisa menjaga keseimbangan.
Comments
Post a Comment