Ketika Formalisme Dihadapkan pada Moral

Sekitar pukul tiga pagi perempuan berbusana serba kuning kunyit, tak berbeda seperti biasa di kepalanya terbalut kerudung yang khas, ia duduk di atas kursi roda, satu orang di belakangnya dan puluhan lagi mengikutinya berjalan menuju panggung.

Di langit-langit gedung menggema lantunan yang sangat kita kenal dan mengenalnya sebagai syiir. Semua orang berdiri kecuali perempuan dengan kerudungnya yang khas itu. Lantunan berhenti dan semua duduk. Namun, kondisi duduknya ratusan orang di gedung itu berbeda-beda. Meskipun sama-sama menghadap sekotak nasi.

Di antara mereka ada yang sudah kenyang-- rata-rata yang duduk di barisan belakang. Ada yang-- entah alasan mulia seperti taat aturan dari panitia, atau karena sungkan dan risih terlihat oleh orang-orang yang duduk di panggung-- bertahan tidak mengotak-atik apa yang ada di dalam kotak di depannya.

Perempuan berkerudung kuning kunyit itu menunjuk tulisan di belakang panggung; judul acara pagi itu. Orang-orang di depannya termasuk aku tentu telah tahu dan membacanya.

"'Sahur Bersama'. Ya ngga? Tulisannya 'Sahur Bersama' atau ngga? Bersama siapa?" tanyanya santun.

Bersama Bu Nyai Shinta Nuriyah, jawabku dalam hati. Shinta Nuriyah, istri Gus Dur, perempuan dengan kerudungnya yang khas, duduk di kursi roda, fisiknya yang melemah karena usianya telah lanjut tapi tidak dengan spiritnya memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, berkeliling ke banyak kota di bulan Puasa untuk sedikit menyentil aku dan orang-orang yang telah gagal memaknai puasa bahkan ketika Ramadhan baru bermula.

"Apakah makna dan hakikat puasa itu hanya sekadar melakukan sebuah ibadah yang dilakukan sebagai ibadah tahunan setiap Ramadhan datang? Apakah seperti itu?" tanyanya lebih lanjut.

Semenjak Bu Nyai Shinta masuk ke dalam ruangan acara, ia telah membawa serta Gus Dur. Ketika berbicara di atas panggung, ia seperti bertutur dari pemikiran Gus Dur secara langsung. Ada lima orang yang paling merepresentasikan Gus Dur di dunia ini, tentu saja mereka adalah istri dan keempat putrinya. Namun, sejauh ini aku paling bisa melihat Gus Dur dari pertemuan pagi itu, pemikirannya tidak hanya dibawa tapi seakan di-gebyah pada semua laki-laki dan perempuan di sana.

Fenomena sederhana di acara Sahur Bersama yang makanannya tidak disantap secara bersama itu adalah fenomena formalisme agama dalam bab puasa. Formalisme agama adalah pemahaman beragama yang terjebak pada bentuk (form) semata, seperti ritual dan aturan-aturan yang sudah ketinggalan jaman. Orang sibuk mengikuti aturan berdoa dan aturan moral yang dibuat ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu, tanpa paham isi dan tujuan sebenarnya (Denni, dkk., 2021).

Ajaran yang dibawa oleh Puasa, kata Bu Nyai Shinta, adalah akhlak dan budi pekerti yang luhur. Dari sini dapat diidentifikasi bukan bahwa puasa orang-orang yang mendahului menyantap makan sahurnya sarat oleh formalisme ajaran agama saja? Dan Bu Nyai Shinta tidak menginginkan saudara-saudaranya (termasuk yang hadir pada acara itu) demikian.

Formalisme ajaran agama banyak disinggung oleh Gus Dur dalam tulisannya. Misal dalam sebuah artikel berjudul Kebersamaan dalam Menanggulangi Kemiskinan: Sebuah Perspektif Islam Gus Dur lebih jauh mengkritik formalisme ajaran agama yang berdampak pada tersungkurnya kehidupan ekonomi umat Islam.

Gabungan dari sikap legal-formalistik dalam pengaturan kehidupan bermasyarakat, diimbangi di sisi lain oleh spiritualitas sangat ritualistik, dalam jangka panjang menyebabkan perhatian kaum muslimin terpaling dari masalah dasar yang dihadapi ummat manusia: Bagaimana memelihara dan meningkatkan martabat manusia itu sendiri?

Kejadian makan duluan oleh beberapa peserta bukan yang dikehendaki panitia. Namun, kemungkinan panitia luput untuk mengingatkan peserta agar jangan makan sahur sebelum ada aba-aba dari Bu Shinta. Terlepas dari keluputan panitia, sesungguhnya acara itu telah men-challenge diri masing-masing peserta, sejauh mana mereka berpikir.

'Sahur Bersama' menghadapkan formalisme tadi dengan moral. Cania Citta dalam video esainya berpendapat bahwa, moral yang baik bisa mengasah kita sehingga nurani kita bisa terganggu kalau apa yang kita perbuat mengganggu well-being (kesejahteraan diri) orang lain. Sementara moral berbasis larangan dan perintah dari suatu ajaran, ideologi, atau set of beliefs bisa jadi tidak ada koneksinya ke situ.

Orang-orang yang makan duluan mungkin telah terbiasa dengan aturan yang berbasis kepercayaan. Mereka (aku juga) takut seandainya waktu imsak keburu datang sebelum makanan di depan mereka habis. Tapi, mereka kali itu tidak dapat menggunakan mata nalarnya dengan lebih baik sehingga "tidak dapat melihat" peserta lain yang belum menyantap nasi kotak serta Bu Shinta Nuriyah khususnya, dan tulisan judul acaranya tentu saja.

"Kalau bapak-ibu menyuapkan makanan ke mulut Anda semua, dan saya menyuapkan makanan ke mulut saya, itu namanya bersama-sama. Tapi kalau bapak-ibu sekalian sudah menyuapkan makanan sementara saya memegang (makanan) saja belum, itu artinya tidak bersama-sama, kan?" ujar Bu Shinta Nuriyah.

Pak Rektor pun tertawa.


Referensi:

Denni Khas Juliana Br Nainggolan, dkk., Formalisme Agama: Tinjauan Teologi Religionum tentang Formalisme Agama dan Relevansinya dalam Kerukunan Umat Beragama, Prosiding Seminar Nasional STT Sumatera Utara, Vol. 1, No. 1 (2021).

Abdurrahman Wahid, Kebersamaan dalam Menanggulangi Kemiskinan: Sebuah Perspektif Islam, gusdur.net, 1989, https://gusdur.net/kebersamaan-dalam-menanggulangi-kemiskinan-sebuah-perspektif-islam/ (diakses 23 Februari 2026)

Cania Citta, Moral Tanpa Agama Apa Mungkin?, youtu.be/sjXHhnvhkg4?si=M5J0k0VOz24IeMAH (diakses 23 Februari 2026)




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Melebar ke Mana (-mana)?

MBG Lagi, MBG Lagi