Posts

Showing posts from March, 2026

Mencitrakan Sopir Truk

Seorang pria paruh baya tergeletak di ranjang sakit, badannya lemah, infus menempel di lengan, ia memaling muka dari tatapan langit-langit, meringis kesakitan di antara selang di mana ada darah bersirkulasi. Darah pria itu. Ia menangis. Kuketahui ia adalah sopir truk ketika scene berikutnya membawa tubuhnya yang membaik masuk ke dalam kabin lalu duduk di belakang setir. Tangannya gemetar. Aku pikir pasti karena sakitnya. Ponsel yang digenggamnya menampilkan nama "Tiwi" dalam layar panggilan yang tidak kunjung dijawab. Pria itu gundah. Belakangan aku baru tahu Tiwi adalah nama anaknya. Tepatnya saat ia terbaring di ranjang sakit bukan dalam rangka cuci darah, tapi setelah tubuhnya tumbang di sela pekerjaannya menurunkan beban dari dalam bak truk. Tak terhitung berapa kali aku mengulang adegan-adegan itu dan sesering itu pula air mataku tak terbendung. Satu komentar di video klip Sal Priadi itu berbunyi: "kalau punya lagu sedih itu video klipnya tolong jangan sedih-sedih ...

Oh, Fadia Arafiq

Jangan berlebihan merayakan sesuatu. Itulah kalimat yang relevan buat masyarakat Pekalongan. Diksi "merayakan" pun kiranya sudah tepat. Bentuk perayaannya beraneka macam. Dari memasang spanduk di tempat umum dengan ucapan terima kasih pada KPK, sampai bagi takjil sebagai syukuran. Usai ditetapkan jadi tersangka kasus korupsi (detil kasusnya bisa disimak di banyak media), terpampang di jagat medsos Fadia Arafiq, bupati Pekalongan mengenakan rompi oranye dengan kerudung menutupi hampir seluruh wajahnya. Aku hanya melihat sebelah matanya menyeruak di antara keriuhan- pertanyaan hingga hujatan (oleh netizen). Mengemukanya kasus rasuah Bupati Pekalongan tidak cuma menandakan adanya penyalahgunaan wewenang. Berdasar konferensi pers KPK, belasan milyar uang dari perusahaan keluarga bupati, yang mana hasil penyalahgunaan wewenang jabatan tersebut, mengalir kepada Fadia dan keluarganya. Belasan milyar, bayangkan! Sementara warga Kabupaten Pekalongan masih banyak yang miskin. Mengemuka...

Merangkai Puzzle G30S

Terakhir, dua tahun lalu, aku agak serius mengkaji sejarah peristiwa Gerakan 30 September, lewat literatur seadanya. Buku yang sempat aku gunakan antara lain: Kudeta 1 Oktober (Anderson & Mcvey, 2017); Peristiwa G30SPKI: 60 Hari yang Mengguncang Dunia (Tim Dewan Pakar DPP Laskar Ampera, 2018). Karena hanya agak serius, upaya pengkajian itu tidak tuntas. Namun, selalu ada keinginan untuk melakukannya lagi. Dan memang secara kontinyu aku masih menggapai-gapai fakta yang berseliweran. Walaupun tidak lewat sumber fisik. Lebih sering dapat dari media digital. Seperti baru saja aku tercerahkan sedikit melalui artikel Muhidin M. Dahlan (sebelumnya terbit di Mojok tanggal 11 Maret 2026) yang ia posting dalam bentuk carousel di Instagramnya. Gus Muh sebenarnya lebih menonjolkan apa yang terjadi pada Iran di masa 1950-an. Di mana PKI memberi dukungan kepada Iran lewat partai kiri Tudeh yang terakomodir dalam pemerintahan Mossadeq yang saat itu tengah akan digulingkan oleh imperialisme Amer...