Merangkai Puzzle G30S

Terakhir, dua tahun lalu, aku agak serius mengkaji sejarah peristiwa Gerakan 30 September, lewat literatur seadanya. Buku yang sempat aku gunakan antara lain: Kudeta 1 Oktober (Anderson & Mcvey, 2017); Peristiwa G30SPKI: 60 Hari yang Mengguncang Dunia (Tim Dewan Pakar DPP Laskar Ampera, 2018).

Karena hanya agak serius, upaya pengkajian itu tidak tuntas. Namun, selalu ada keinginan untuk melakukannya lagi. Dan memang secara kontinyu aku masih menggapai-gapai fakta yang berseliweran. Walaupun tidak lewat sumber fisik. Lebih sering dapat dari media digital. Seperti baru saja aku tercerahkan sedikit melalui artikel Muhidin M. Dahlan (sebelumnya terbit di Mojok tanggal 11 Maret 2026) yang ia posting dalam bentuk carousel di Instagramnya.

Gus Muh sebenarnya lebih menonjolkan apa yang terjadi pada Iran di masa 1950-an. Di mana PKI memberi dukungan kepada Iran lewat partai kiri Tudeh yang terakomodir dalam pemerintahan Mossadeq yang saat itu tengah akan digulingkan oleh imperialisme Amerika, dkk. Akan tetapi, di bagian terakhir tulisannya, Gus Muh mencantumkan sedikit paragraf yang dijadikannya subjudul: "Metode Jakarta".

Dapat dipahami lewat paragraf-paragraf sebelumnya, bahwa kudeta di Iran tahun 1950-an itu disebut "metode Teheran". Amerika, imperialisme, kiri, PKI. Dengan peta pengetahuan yang sudah ada di dalam kepalaku tentang G30S, secara otomatis semua itu memberi sambungan pijakan buat menggapai sekeping puzzle sejarah untuk aku pertemukan dengan kepingan lainnya yang telah tersusun dan terbengkalai.

Metode Jakarta adalah sebuah buku karya Vincent Bavins, seorang jurnalis Amerika yang bekerja di Washington Post dan pada saat menggarap karyanya itu (2018-2020) tengah berada di Jakarta untuk peliputan Asia Tenggara.

Alih-alih membaca bukunya yang belum ready di rak pribadi, aku terburu-buru kepo dan cari tahu lewat video esai Kamar Film yang membahas itu. Dalam video yang dibuat 7 bulan sebelum serangan Amerika-Israel ke Teheran itu, narator memulainya dengan sejarah Iran era 1950-an. Sehingga tak jauh beda dengan Muhidin M. Dahlan tadi.

Akhirnya, aku flashback ke peristiwa G30S itu sendiri dengan memulainya dari tokoh sentral peristiwa tersebut, yaitu Letkol Untung Syamsuri. Sebuah sumber artikel di internet menyebut bahwa Letkol Untung merupakan anak buah Soeharto di angkatan darat yang kemudian ditempatkan sebagai komandan resimen khusus Cakrabirawa, pasukan pengawal presiden Soekarno waktu itu.

Merasa masih kurang puas, aku mencari sumber lain di youtube dan berlabuh di video Guru Gembul yang diunggah setahun lalu berjudul "Bohong Besar Sejarah Indonesia: Fitnah G30S/PKI". Guru Gembul membedah secara singkat peran Letkol Untung dalam peristiwa G30S yang mana tidak sesederhana seorang letkol yang memimpin penculikan enam jenderal di malam 30 September 1965.

Entah benar atau tidak rencana kudeta terhadap presiden Soekarno akan dilakukan oleh Dewan Jenderal. Namun sang presiden terburu memerintahkan kepada Untung dan sang komandan terburu melaksanakan perintah itu dengan eksesif.

Serampungnya seremoni penyingkiran keenam jenderal, datanglah pasukan RPKAD dengan jumlah besar mengepung pasukan Untung dan gerombolannya. Gembul menceritakan, pada saat itu Untung merasa bingung, mengapa RPKAD itu datang dan ingin menangkapnya? Bukankah seharusnya mereka ada di pihaknya? Begitu kira-kira.

RPKAD adalah pasukan di bawah komando Soeharto, orang yang telah merestui dan mendukung operasi penculikan dewan jenderal. Bahkan sebagian pasukan operasi tersebut merupakan utusan dari Soeharto.

Kemudian menurut eks menteri Luar Negeri Soebandrio, Soeharto memberikan dukungan kepada Untung untuk menangkap Dewan Jenderal dengan mengirim bantuan pasukan. Soeharto memberi perintah per telegram Nomor T.220/9 pada 15 September 1965 dan mengulanginya dengan radiogram Nomor T.239/9 pada 21 September 1965 kepada Yon 530 Brawijaya, Jawa Timur, dan Yon 454 Banteng Raiders Diponegoro, Jawa Tengah. (tempo.co)

Tidak heran jika Untung kebingungan. Dalam kondisi bingung ia melarikan diri ke Brebes. Namun, dalam perjalanan ia ketiduran dan bablas sampai Tegal. Di sanalah ia ditangkap, dan bukan oleh polisi atau tentara, tapi oleh penumpang bus yang kehilangan dompetnya dan mengira Untung pelakunya. Di markas tentara setempat ditahanlah ia hingga pengadilan dilaksanakan.

Referensi:

https://mojok.co/esai/ini-bukan-perkara-sunni-vs-syiah-pki-belapati-dengan-iran/ (diakses 15 Maret 2026)

https://youtu.be/hnmG52c6DTc?si=PD87-TdmEirjhrS_ (diakses 14 Maret 2026)

https://www.tempo.co/politik/g30s-1965-rupanya-soeharto-yang-tempatkan-letkol-untung-nbsp--1416262#google_vignette (diakses 15 Maret 2026)

Comments

Popular posts from this blog

Ketika Formalisme Dihadapkan pada Moral

MBG Lagi, MBG Lagi

Malam Bulan Puasa