Malam Bulan Puasa
Di kecamatan ini, suasana malam di bulan Puasa dari awal abad 21 sampai sekarang tidak pernah berubah. Selalu bertabur kegiatan konfeksi di rumah-rumah. Dari ukuran besar sampai yang hanya terdiri dari satu keluarga. Mereka bergelut dengan kain-kain, menjahit baju dan lain-lain.
Meski begitu, sejak cara manusia dalam menjual-belikan barang berkembang ke arah digital, ada wajah lain yang tampak di malam Ramadan, yaitu perpaketan atau ekspedisi. Geliatnya begitu besar. Sebab setiap hari selalu ada orang membeli barang dari toko online, tentu harus ada pihak yang menyediakan barangnya, para pejuang online shop lah pemainnya di lapangan baru ini.
Mungkin dulu di awal trennya, aku melihatnya sebagai aksen saja. Tapi, sekarang sudah menjadi sesuatu yang primer. Mungkin orang lain merasa asyik dan senang dengan tren itu. Apalagi yang hobi berbelanja. Tapi, aku dan pikiranku-- yang aneh ini-- seperti belum bisa menerimanya. Perubahan yang terlampau mempermudah itu terlalu mengikis wajah lama dengan ekstrem. Hal itu tidak begitu kusukai.
Okelah, kita lewati itu. Kini, aku mengalami perbedaan yang lebih sempit lagi. Ini adalah malam bulan Puasa yang tidak pernah aku rasakan sebelum-belumnya. Sekarang tidak ingin hari-hari di bulan Ramadhan cepat pergi. Bukan karena aku punya alasan religius seperti orang-orang yang rajin terawih. Aku cuma tidak berani menghadapi waktu yang menunggu di kejauhan sana. Kalau boleh hiperbolis, tujuh hari terakhir Ramadan selama 29 tahun lalu menyenangkan untuk disambut. Tapi sekarang? Tunjangan Hari Raya apalah artinya.
Aku terseret waktu menuju perubahan besar dalam hidupku. Aku percaya, ketika ruang dan waktu itu tiba, segalanya tidak akan lagi sama. Oke, itu tidak masalah. Toh, secara garis besar aku sedang melangkah menuju bahagia. Orang selalu bilang, pasti ada ujian pada dua insan yang akan melangsungkan pernikahan. Tapi, El Rumi tidak akan mengalami hal buruk sepertiku ketika ia mau menikah dengan Syifa Hadju. Dan beginilah mungkin "ujian khusus" untuk orang-orang yang mengalami kelemahan dalam ekonominya (aku masih belum yakin kalau ini ujian).
Di bulan Puasa ini sebenarnya aku ingin mendapatkan pekerjaan tambahan di malam hari buat mengurangi kecemasan akan modal nikah yang masih kurang untuk sekadar kebutuhan konsumsi acara hari H. Tapi apa yang harus aku lakukan?
Lebih jauh aku ingin mencari penghasilan yang lebih baik dari sekarang. Seharusnya sebagai manusia normal aku bisa, misal membuat usaha. Tapi lagi-lagi, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu. Dan aku membaca buku agar pikiranku lebih aktif sekaligus barangkali mendapat setitik inspirasi dari apa yang kubaca.
Untuk mendapatkan keleluasaan membaca, aku pergi ke kedai kopi, tempat dengan suasana yang lebih efektif ketimbang kamarku. Selama tiga jam aku duduk, fokus pada sebuah buku. Hal-hal penting dari buku itu aku kumpulkan lewat catatan melalui aplikasi pencatat Obsidian. Saat telah rampung, aku keluar dari kedai kopi dan melangkah pulang ke rumah. Dalam perjalanannya itu aku mengenang malam bulan Puasa tahun-tahun lampau. Aku juga pernah berada pada dunia konfeksi sebagai pembuat lubang kancing dan mengoperasikan mesin pemasang kancing. Tapi, hal itu tadi tidak terlintas di kepalaku. Aku lebih memperhatikan rumah-rumah baru di pinggir jalan. Terasa begitu jauh rumah-rumah itu dengan kemampuanku menggapainya.
Comments
Post a Comment