Hijrahnya Nidah Kirani
Aku memulai menilik memoar Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur (2020) dengan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo (SMK). Seseorang yang dikenal buruk oleh aku dan kawan-kawanku sewaktu duduk di bangku madrasah karena ulahnya memberontak di negeri kesatuan RI. Padahal kalau kita tahu, ia itu seorang aktivis pergerakan kemerdekaan, pernah berada di dalam Jong Java, kemudian Jong Islamiten Bond, dan menjadi follower HOS Cokroaminoto di Sarekat Islam hingga perjalanannya berakhir di tahun 1962 dihantam peluru hukuman mati setelah 13 tahun ke belakang mendeklarasikan Negara Islam Indonesia (NII).
SMK kita jadikan pintu untuk memasuki isi memoar luka seorang muslimah bernama Nidah Kirani. Sebab, muasal perjalanan "spiritual" Kiran bermuara dari inspirasi tokoh ini. Semua-mua--kalau kata Gus Muh, kawan tokoh utama yang menuliskan ketangguhan perempuan itu menjadi sebuah buku yang sudah 20 tahun usianya. Hingga kemudian dipinjam menjadi karya sinema oleh Hanung Bramantyo. Kita bicarakan juga itu di sini.
Nidah Kirani menyebutnya Eyang Wirjo. Memang, tidak secara lengkap nama itu disebut. Tapi siapa lagi kupikir, leluhur ampuh yang mewariskan ajaran daulah Islam di Indonesia. Eyang Wirjo melancarkan doktrinnya Lewat dokumen di antara tumpukan bacaan lain yang tersedia di tempat bernama pos, Kiran dengan antusias membacainya. Meski para seniornya melarang. Tapi, Kiran yang selalu haus pengetahuan tidak menghirau.
Fotokopi dokumen tua itu pula yang menguatkan tekad sang tokoh utama memoar, untuk menyebarkan dakwah tentang bagaimana menjadi pemeluk Islam yang kafah, bahwa Islam di negeri ini tidak akan sempurna kecuali syariat ditegakkan bersama daulah Islam. Seolah spirit Eyang Wirjo telah merasuk ke dalam jiwa Kiran.
Sebelum mantap berdakwah dengan mengusung daulah Islam, sebelum dibaiat, sewaktu masih tinggal di pondok, Kiran merasa bosan dengan corak ibadah yang alih-alih mengejar kemurnian Islam, malah hanya berupa ritual yang itu-itu saja. 'Kajian di Pondok Ki Ageng yang didominasi oleh ritual dan doa-doa sudah membuatku sampai pada titik kebosanan yang kronis' (Dahlan, 2020). Bertemulah Kiran dengan Rahmi, sahabatnya di pondok yang lebih dulu mengikuti kajian di masjid tarbiyah. Di sana ia menemukan apa yang dicari. Lalu, pertemuannya dengan seorang lelaki bernama Dahiri membawa Kiran melangkah. Berhijrah. Dibaiat dan menjadi bagian dari jemaah.
Peristiwa hijrah Kiran tentu saja tidak plek ketiplek dengan hijrahnya Nabi Muhammad. Namun, adakah kita mengingat bahwa tahun baru hijriyah yang kita peringati berpaku pada berpindahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah? Bagi sebagian kalangan yang pertama diingat ketika tiba di penghujung tahun Islam ialah doa akhir dan awal tahun. Kiran pasti mengkritik Islam yang bercorak ritual semacam itu. Bahwa aktivitas berdoa tersebut baik adalah betul. Namun, jika tidak secara khusus disinggung soal sejarahnya, mungkin kita tidak akan mengingat betapa di situ ada periode Mekkah yang sangat memilukan bagi Nabi.
Hijrah Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M merupakan peristiwa monumental dalam sejarah Islam. Lebih dari sekadar perpindahan fisik, hijrah melambangkan awal mula berdirinya negara Islam pertama dan menjadi titik balik penting dalam perjuangan dakwah Rasulullah (nu.or.id).
Dan peristiwa itulah yang dipotret Kartosuwiryo menjadi "Sikap Hijrah PSII" di tahun 1936 yang pada waktu itu ia menjabat sebagai Vice-President Dewan Party Sjarikat Islam Indonesia. Mengumpamakan zaman Nabi, periode pendirian Negara Islam Indonesia adalah periode hijrah yang dimaksud di atas. Artinya, sebelum NII berdiri, Indonesia bagi SMK CS tengah mengalami periode Mekkah. Kita tahu apa yang dialami Nabi Muhammad dan umatnya ketika mendapat berbagai macam serangan, mental pun fisik, ketika itu. Kita pasti pernah mendengar kisah Nabi tatkala tengah sholat ditimpuki tahi. Atau sahabat Bilal disiksa oleh kaum Quraisy supaya ia berbalik arah dari ajaran Muhammad.
Hijrahnya Nabi, hijrahnya Eyang Wirjo, hijrahnya Kiran, sekali lagi tidaklah persis. Lebih khusus Kiran, dalam memoar tersebut ia gagal dalam hijrahnya. Ia tersandung kecewa. Negara Islam yang diimpikannya tidak terwujud. Jalan sufi yang ia titi ternyata tak disambut oleh jemaah yang ia ikuti. Semangat dakwah dengan sepenuh jiwa dan segenap raga justru disiakan oleh kawan sejemaahnya sendiri. Perjuangan yang ia lakukan, yang ia persembahkan untuk Tuhan pun dilepeh begitu saja. Dari sinilah Kiran mula-mula mendapatkan kecewanya pada Tuhan.
Di dalam film, momen tersebut tidak diambil. Berbaliknya keimanan Nidah Kirani diawali dengan dirinya yang diminta menjadi istri kedua oleh Ustaz Abu Darda, seorang pimpinan jemaah (tokoh tersebut di dalam buku tidak disebutkan), Kiran menolak. Abu Darda tidak terima atas penolakan itu. Ia pun agaknya takut rekaman di handphone Kiran yang menjadi bukti bahwa ia pernah meminta menikahi Kiran secara siri akan tersebar. Sehingga disusunlah narasi fitnah: mahasiswi kampus swasta merayu ustaz ternama. Nahasnya, orang tua Kiran justru lebih mempercayai berita itu dan menyalahkannya.
Film dan buku, keduanya punya banyak perbedaan. Namun masing-masing menampilkan isu sosial, politik, agama yang barangkali luput dari kesadaran kita. Meski begitu, perbedaan pada cerita secara mendasar membikin ragu para pembaca pun penonton. Seperti tokoh Darul, kekasih pertama Kiran, yang di buku adalah ketua Forum Mahasiswa Kiri untuk Demokrasi, memakai jaket kumal, di filmnya adalah mahasiswa muslim bagian dari jemaah, bajunya serupa jubah, atasannya langsung menyambung ke bawah menutupi kaki. Dan Darul-lah yang mengamankan Kiran dari kejaran anak buah Abu Darda di sebuah losmen tapi justru ia yang meninggalkan Kiran usai sempat bercinta dengannya di losmen tersebut, dan seterusnya, sampai Kiran yang muslimah taat berubah 180 derajat menjadi pelacur untuk dosen, anggota dewan, pejabat tinggi.
Sebuah pertanyaan: mengapa semangat yang begitu fantastis untuk merajut (kembali) Negara Islam Indonesia harus ditanggung Nidah Kirani, seorang perempuan? Sedangkan jika melihat struktur dalam jemaah, laki-laki di atas segalanya. Mereka yang punya suara. Jangan-jangan Periode Mekkah bagi Nidah Kirani bukanlah ketika Islam tanpa daulah, melainkan perempuan tanpa kemerdekaan?
Selamat Memperingati Hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah. Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah.
Referensi:
Muhidin M. Dahlan. Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur. Bantul: ScriPtaManent. 2020.
https://jabar.nu.or.id/ngalogat/hijrah-nabi-muhammad-saw-pelajaran-mendalam-untuk-kehidupan-Dx88P (diakses 16 Juni 2026)
Comments
Post a Comment