Mencitrakan Sopir Truk
Seorang pria paruh baya tergeletak di ranjang sakit, badannya lemah, infus menempel di lengan, ia memaling muka dari tatapan langit-langit, meringis kesakitan di antara selang di mana ada darah bersirkulasi. Darah pria itu. Ia menangis.
Kuketahui ia adalah sopir truk ketika scene berikutnya membawa tubuhnya yang membaik masuk ke dalam kabin lalu duduk di belakang setir. Tangannya gemetar. Aku pikir pasti karena sakitnya.
Ponsel yang digenggamnya menampilkan nama "Tiwi" dalam layar panggilan yang tidak kunjung dijawab. Pria itu gundah. Belakangan aku baru tahu Tiwi adalah nama anaknya. Tepatnya saat ia terbaring di ranjang sakit bukan dalam rangka cuci darah, tapi setelah tubuhnya tumbang di sela pekerjaannya menurunkan beban dari dalam bak truk.
Tak terhitung berapa kali aku mengulang adegan-adegan itu dan sesering itu pula air mataku tak terbendung. Satu komentar di video klip Sal Priadi itu berbunyi: "kalau punya lagu sedih itu video klipnya tolong jangan sedih-sedih juga...."
Sebenarnya tidak semua part di lagu ini bernuansa sedih. Menurutku hanya di reffnya. Saat pertama kali mendengar lagu ini secara full, sangat jauh dari sangkaku versenya akan begitu. Sedangkan pada bagian reff lirik dan notasinya sangat dramatis.
Ada titik-titik di ujung doa keselamatan penutup malam
Kuisi dengan namamu
Kucoba memaafkanmu selalu
Kalau di situ ada salahku
Maafkanku juga
Video klip ini dibuat setelah lagu tersebut naik dan populer di jagat media sosial. Cerita pria paruh baya dan putrinya semakin mengangkat lagu ini. Menambah nuansa sedih. Membuat verse yang kurang sedih menjadi satu kesatuan utuh bersama lagu ini dan cerita dalam video klipnya.
Bagaimana kita membayangkan kepribadian seorang sopir truk dengan dunianya yang sebagian besar dihabiskan di jalan, penuh keringat, sarat tekanan, plus citranya berdampingan dengan wanita penghibur yang menjajakan jasanya di pinggir pantura? Jelas berbeda dengan agamawan yang pakaian "dinasnya" rapi pun wangi. Yang juga bepergian melintasi kota mengisi pengajian. Namun sopir truk yang jadi tokoh dalam cerita ini, ia religius. Ia berdoa di penutup malam.
Ada Titik-Titik di Ujung Doa tuntas mencitrakan sopir truk sebagai sosok yang bersahaja. Romantis. Berkasih sayang. Setia dengan cintanya yang satu. Tidak ke mana-mana selain istri dan anaknya. Mulai sekarang, jika kita melihat tulisan romantis di belakang truk, kita harus yakin, bahwa itu adalah isi hati dari sang sopir yang penuh kasih sayang. Setia dengan cintanya yang satu.
Comments
Post a Comment