Drama UGM: Sikap Politisi Orang Tua

Aku masih ingat betul Ibu Candi, guru Bahasa Indonesiaku. Ia dalam kesempatan mengajar memberi kami majalah yang di dalamnya terdapat rubrik cerita pendek. Aku dan kawan-kawanku dilatih ilmu penting itu: menelisik unsur intrinsik cerita; mengidentifikasi tema, alur, penokohan, latar, dan moral value yang terkandung di dalamnya. Saking pentingnya, ilmu ini aku dapatkan di lebih dari satu kesempatan belajar (SMP-SMK).

Dan ternyata ilmu ini memang bermanfaat. Aku baru merasakannya sekarang. Khususnya untuk mengidentifikasi watak tokoh. Namun, kali ini medianya bukan teks, melainkan film. Kalau kamu lagi berlangganan Netflix, tontonlah sebuah film yang dibintangi oleh Julia Roberts, bertajuk Leave the World Behind (2025).

Di UGM

Senin, pertengahan persis bulan Juni, Budiman Sujatmiko, seorang lelaki paruh baya yang satu bab masa mudanya terekam rapi menjadi video dokumenter berjudul Budiman Sudjatmiko and His Fight for Democracy in Indonesia (1997) diteriaki "pengkhianat reformasi" oleh mahasiswa Universitas Gajah Mada saat pagelaran diskusi sedang berlangsung di kampus tersebut.

Dengan segala sikap heroik Budiman muda, mahasiswa aktivis mana yang tidak simpatik? Budiman tanpa gentar di depan hakim pengadilan era rezim otoritarian, meneriakkan dengan lantang, "boikot pemilu!". Juga, mahasiswa aktivis mana yang tidak kecewa mendapati idolnya hari ini seperti kerbau dicocok hidungnya oleh pemimpin negara yang kebijakannya banyak cacat di sana-sini?

Mereka, mahasiswa yang kecewa itu mengerubungi Budiman- serta dua kawan satu lingkaran kekuasaan: Nusron Wahid dan Sudaryono- bagaikan semut mengurubung nyamuk yang sekarat sehabis kena tepuk. Beruntung, Budiman lolos. Sedang dua kawannya itu pasrah ditahan para aktivis UGM.

Di video lain, mungkin beberapa menit setelah Budiman berlalu, Nusron yang terduduk di lantai di samping Sudaryono menjawab dakwaan mahasiswa dengan santai. Kita bisa menebak, seorang menteri seperti Nusron pasti menggenggam banyak data, yang ketika lawan bicaranya benar pun dia tidak akan terlihat bodoh. Tapi ketika yang dihadapi adalah atasannya yaitu Presiden Prabowo, mereka pasti akan bertindak sebaliknya, menjadikan dirinya sebodoh mungkin.

Di film

Clay Sanford dan Amanda Sanford terkejut kala seorang bapak dan anak perempuannya malam-malam datang ke rumah yang mereka sewa untuk liburan. Betapa tidak, bapak dan anak itu mau tinggal di situ sejak malam itu juga. Clay mempersilakan masuk, namun Amanda berat hatinya melihat kaki kedua orang asing itu melangkahi ambang pintu. Fakta yang sulit diterima segera adalah mereka pemilik rumah tersebut!

Demikian satu scene dalam film Leave the World Behind yang mengawali kebersamaan keluarga Scott dan keluarga Sanford. Namun, persoalan intinya bukan itu. Kedatangan bapak dan anak perempuan tadi merupakan akibat dari sebab yang misterius. Mengapa? Apakah keluarga kecil itu akan jadi gelandangan setelah menyewakan istananya? Kalau aku terka sih, uang mereka cukup berlimpah untuk menyewa apartemen mewah di New York, ketimbang menjadi tidak terhormat berada di rumahnya yang sudah ia sewakan.

Kedatangan G.H. Scott ke rumah yang ia bangun di tengah bukit itu bukan tanpa sebab. Ia sudah memperkirakan sedang terjadi "sesuatu". Ancaman besar untuk dirinya dan seluruh warga negara Amerika. Dimulai dengan rusaknya sinyal satelit yang mengakibatkan internet down dan alat transportasi seperti kapal dan pesawat hilang kendali, teror suara, dan dipungkasi ledakan besar di kota.

Pagi hari usai hatinya dongkol karena liburannya tiba-tiba terganggu, Amanda dibangunkan Rose, anak perempuannya, berusia belasan, merajuk ingin menonton Friends, sitkom kesayangan yang dirinya tontoni hingga menyisakan episode terakhir. Sedangkan televisi hanya menampilkan butir-butir salju dan gawainya dimasuki cincin berputar di tengah layar.

Rose menindih tubuh Amanda yang tengah berbaring di samping Clay yang masih terlelap. Clay barangkali mendengar putrinya meminta sang ayah supaya televisi diperbaiki. Tapi, Amanda hanya menanggapi rajukan Rose sebagai permintaan yang remeh di tengah situasi yang sedang tidak nyaman juga tidak aman.

Jangan remehkan yang muda

Orang-orang tua membosankan seperti Nusron, Sudaryono, dan Budiman Sujatmiko menghadapi mahasiswa UGM tidak ubahnya dengan Amanda menanggapi Rose. Mereka merasa lebih tahu dari mahasiswa kemarin sore, lebih punya banyak pengalaman, karena wajar memang mereka sudah menginjakkan kaki di bumi lebih dulu. Orang-orang tua itu terkadang di alam pikirnya yang begitu, merasa sangat jemawa. Yang perlu kita pahami, sepintar bagaimana juga dan seberapa menangnya di hadapan mahasiswa, mereka adalah politisi yang menyebalkan. Oportunis.

Penonton tidak pernah bisa mengira ujung ceritanya akan seperti apa. Rose bertindak berdasarkan naluri bocah belasan tahun, dia sangat emosional menunggu kapan bisa menyaksikan episode terakhir Friends. Dia menaiki sepeda menuju sebuah rumah yang orang-orang tua di film itu bahkan tidak pernah tahu. Rumah itu adalah tempat paling aman untuk berlindung dari segala gejala abnormalitas yang sedang terjadi.

Di sana terdapat ruangan berupa brankas raksasa berisi semua kebutuhan untuk bertahan hidup, paling tidak hingga dunia kembali normal. Dan, yang paling menyenangkan di dalamnya terdapat DVD episode terakhir Friends. Sementara para orang tua masih kebingungan, Rose menjadi yang pertama mendapat keamanan bahkan kenyamanan.

Penonton "drama UGM" pada 15 Juni kemarin menghakimi mahasiswa yang menolak para narasumber lingkar kekuasaan, yang kemudian gara-gara teriakan itu suasana jadi gaduh, hingga acara diskusi berhenti. Penonton bilang kalau tindakan mahasiswa itu memalukan, tidak beretika, menolak diskusi. Padahal, menurutku yang ditolak bukan diskusinya. Apa pun acaranya, entah mereka datang untuk diskusi entah mereka datang cuma diam, mahasiswa menolak sikap kompromi, sikap mendukung kebijakan yang carut, dan sikap jemawa para politisi orang tua itu.

Comments

Popular posts from this blog

Raja Ampat di Momentum Kurban

Hijrahnya Nidah Kirani

Mencitrakan Sopir Truk