Oh, Fadia Arafiq
Jangan berlebihan merayakan sesuatu. Itulah kalimat yang relevan buat masyarakat Pekalongan. Diksi "merayakan" pun kiranya sudah tepat. Bentuk perayaannya beraneka macam. Dari memasang spanduk di tempat umum dengan ucapan terima kasih pada KPK, sampai bagi takjil sebagai syukuran.
Usai ditetapkan jadi tersangka kasus korupsi (detil kasusnya bisa disimak di banyak media), terpampang di jagat medsos Fadia Arafiq, bupati Pekalongan mengenakan rompi oranye dengan kerudung menutupi hampir seluruh wajahnya. Aku hanya melihat sebelah matanya menyeruak di antara keriuhan- pertanyaan hingga hujatan (oleh netizen).
Mengemukanya kasus rasuah Bupati Pekalongan tidak cuma menandakan adanya penyalahgunaan wewenang. Berdasar konferensi pers KPK, belasan milyar uang dari perusahaan keluarga bupati, yang mana hasil penyalahgunaan wewenang jabatan tersebut, mengalir kepada Fadia dan keluarganya.
Belasan milyar, bayangkan! Sementara warga Kabupaten Pekalongan masih banyak yang miskin. Mengemukanya kasus ini dan keterangan pers tersebut harus menyadarkan kita bahwa ada ketimpangan ekonomi di Kabupaten Pekalongan.
Lewat fakta-fakta kekayaan bupati (sebenarnya mewakili banyak pejabat lainnya di Indonesia) yang sudah terdengar nyaring dan terlihat benderang, kita bisa tahu bahwa kemiskinan bukan melulu soal individu yang kurang berusaha, tapi karena sistem yang sudah mengabaikan kemiskinan itu sendiri.
Semenjak viralnya berita OTT Bupati Pekalongan, media-media lokal berbondong-bondong memposting skandal apa saja tentang bupati. Bahkan sampai riwayat pendidikannya. Dipikir-pikir ngga jauh remeh sama topik ijazah palsu Jokowi.
Memang topik semacam itu sedap dikonsumsi utamanya oleh tipe masyarakat yang dislike dengan tokoh yang bersangkutan. Terkait Bupati Pekalongan, aku kira media ngga lebih dari sekadar memanfaatkan keviralan saja.
Kalau memang tidak demikian, harusnya jauh sebelum berita OTT itu naik, media juga melakukan hal yang sama. Polanya sekarang jadi mirip Orde Baru yang baru masif dikritik habis-habisan (baca: dijelekkan) setelah ia tumbang. Fyi, Fadia Arafiq juga berasal dari kelompok yang sama dengan pemilik Orde Baru.
Kita juga pasti heran dengan kreator-kreator facebook pro- yang tanpa konteks mengunggah foto lamanya bareng Fadia. Gilak sih, segitu pragmatisnya lingkaran medsos.
***
Pas dituntun keluar dengan wajah tertutup kerudung, air mukanya kusut masai. Aku membayangkan bagaimana kondisi psikis perempuan yang selama bertahun-tahun lekat dengan wong ciliknya Pekalongan tersebut. Kita tentu pernah melihat potret pejabat rupawan itu di papan reklame memeluk seorang ibu-ibu duafa. Atau aku berpikir, paling tidak kita dapat menghargai aksinya terjun ke wilayah banjir, menengok warganya di pengungsian.
Namun, selang beberapa hari Fadia rompi oranye terlihat berbeda di depan kamera. Tidak seperti sebelumnya saat ditanyai wartawan dan ia menjawab, "Saya bingung." sehingga wartawan pun juga bingung.
Aku yang salah sangka ini mengira ia benar-benar malu dan tertekan. Oh ternyata... Sepertinya ia cuma sedang tidak pakai make up pas itu.
Adegannya masih sama. Tapi suasannya sudah beda. Fadia kali ini tenang dan tersenyum dan dengan mantap mengatakan bahwa ia tidak terkena OTT. Ia membawakan diri layaknya bupati Pekalongan yang dihadang wartawan untuk dimintai keterangan tentang program-programnya dahulu.
Lihatlah. Tidak ada secuil pun rasa bersalah di raut wajahnya. Sikapnya seakan meruntuhkan segala tudingan tidak baik netizen Pekalongan padanya di kolom komentar. Namun, apa yang diluapkan netizen tidak sekadar soal OTT. Tapi hasil akumulasi kemuakan atas tingkah bupatinya sejauh ini.
Comments
Post a Comment