Posts

Showing posts from December, 2025

Perpusda Tutup

Di sisa hari pada bulan Desember, hari yang perlahan memungkas tahun terjadinya bencana banjir besar di Sumatra akibat deforestasi, aku pergi ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Pekalongan, dan berhenti di depan gerbang hitamnya yang tergembok. Aku terangkan. Memang pekan ini ada libur Natal (Kamis) dan satu cuti bersama pasca Natal (Jumat). Tapi bukankah sudah semestinya Sabtu-Minggu perpusda buka? Bahkan jika mau lebih serius meningkatkan kualitas manusia di Kabupaten ini, Perpusda tidak menjadwalkan hari libur. Lah, ngga kasihan sama pegawainya, bang? Hampir Dhuhur. Di tengah suasana Car Free Day (CFD) Kajen yang mulai sepi, aku bingung harus ke mana. Karena satu-satunya tujuanku dari rumah adalah menikmati buku di perpustakaan itu- sambil menyedot es kopi susu gula aren yang tadi kubeli. Aku belokkan sepeda motorku ke kanan. Mengambil jalan di sisi seberang lalu keluar ke jalan raya dan entah mengapa aku berbelok ke arah Pendopo Kabupaten Pekalongan. Besar kemungkinan karena tempat i...

Dulu, Aku Ke Mana?

Jose dan aku menantikan roti bakar dan mie goreng yang sudah kami pesan sekitar satu jam yang lalu. Jose berbaring di kursi panjang sambil mengusap-usap layar HP-nya. Melihati hasil jepretan kamera yang menangkap gambar kami berdua di bawah dengan bantuan tripod dan bluetooth shutter. Di bawah kami dan berombong kawanan anak muda juga sepasang kekasih seperti kami adalah pantai. Aku bersyukur karena masih dapat melihat pantai dan merasakan sentuhan lembut ombak meski bukan di daerahku sendiri, Pekalongan. Melainkan di Batang. Semasa kecil di Pantai Ngeboom, Kota Pekalongan paling tidak setahun sekali aku bisa merasakan ombak yang sama. Namun terakhir aku ke sana alih-alih melihat pantai, yang ada malah tembok setinggi 2 meter menahan air laut agar tidak sampai di rumah-rumah di dekatnya. Gila! Jadi laut tersebut terlihat seperti kolam. Mengapa terjadi demikian aku kira tidak perlu dikatakan lagi. Sudah banyak informasi di internet soal kenaikan air laut di Pekalongan. Di tengah kegembi...

Berhipotesis

Sebelum menikah bisa dibilang kita membuat hipotesis pada pasangan kita. Sepanjang periode pacaran kita tidak tahu bagaimana watak, kebiasaan, dinamika emosi pasangan secara sesungguhnya. Sebagian melakukan eksperimen bahkan berkesimpulan. Namun percayalah pengujian variabel-variabel tersebut di masa pacaran banyak muskilnya menghasilkan kesimpulan yang valid. Contoh saja: sepasang kekasih yang ketika pacaran menyembunyikan kentutnya tidak berarti saat sudah hidup serumah akan lari keluar hanya untuk kentut. Mengeluarkan kentut, baik yang berbunyi atau sekadar berbau (busuk) adalah pekerjaan yang memalukan apabila dikerjakan di sekitar orang yang belum kita kenal. Tapi bukannya pacar adalah orang yang kita kenal, ya? Spesifik lagi, deh: di sekitar orang yang belum kita kenal atau sudah kita kenal tapi belum pernah mendengar pun mencium aroma kentut kita. Kecuali kentut tersebut baunya bunga lavender. Contoh lain yang lebih dramatis. Seberapa besar pacar pernah marah dan apa penyebabnya...

Farid dan Benaya Hanya Berhenti

Berhenti di perempatan Ponolawen dari arah utara itu rasanya tidak nyaman. Menunggu lampu hijau di perempatan yang mempertemukan truk-truk besar tersebut hampir seperti menunggu portal kereta api terbuka setelah dua ekor kereta melintas. Lama sekali. Dan itu juga yang akhirnya membikin cemas. Karena truk-truk besar tadi. Sesekali aku menengok spion, memastikan di belakang truk-truk yang searah mengaspal dengan aman. Berhenti cukup erat kaitannya dengan 'rampung' dan 'selesai'. Lukisan yang rampung tidak selalu bisa dikatakan selesai. 'Rampung' adalah keadaan di mana pelukis memilih berhenti di tengah keinginan untuk terus-menerus melanjutkan lukisannya. Kau dapat lebih mengerti (atau malah kurang mengerti?) Goenawan Mohamad menjelaskan itu dalam teks pidatonya berjudul "Fragmen: Peristiwa" yang tergabung di bukunya  Pada Masa Intoleransi . Kecepatan kendaraan 0 km/jam di lampu merah tidak berarti perjalanan pengendaranya sudah selesai atau sampai tuju...