Satpam Perempuan di Hari Kartini
Setiap hari ke-21 bulan April, bukan pemandangan yang asing ketika guru-guru perempuan di sekolah atau staf perempuan di kantor-kantor pada memakai kebaya. Tapi kalau satpamnya pun memakai kebaya? ini baru pertama aku melihatnya. Tepatnya tadi siang di Kantor Pertanahan Kabupaten Pemalang. Di sana memang ada satpam perempuan yang biasanya memakai pakaian dinasnya yang khas. Namun khusus hari istimewa ini, ia menyambut kedatangan para pengurus dokumen tanah memakai bawahan kain jarik dan atasannya baju kebaya.
Kejadian itu akhirnya membuatku memikirkan hal yang sama dengan apa yang diunggah oleh akun IG @mprogmedia hari ini. Akun yang getol membahas feminisme ini menuliskan: Kartini bukan sekadar kebaya. "Parade" kebaya yang dilakukan tiap tahun di tanggal kelahiran Raden Ajeng Kartini menurutnya adalah hasil penjinakan pemikiran politik Kartini oleh Orde Baru. Atau Fahrudin Faiz mengatakan, itu aksiden. Esensinya juga harus ditangkap.
Di Indonesia, pekerjaan satpam didominasi oleh laki-laki. Dalam benak sebagian besar orang Indonesia, satpam ya laki-laki. Makanya, kita sering takjub saat mendapati di sebuah perusahaan ada satpam perempuan. Dalam wacana gender, respon semacam itu adalah hasil kebudayaan yang dibentuk selama beratus tahun oleh struktur sosial. Jika ada satpam perempuan di suatu perusahaan, maka di sana terjadi marginalisasi sistemik terhadapnya.
Penelitian yang dilakukan oleh Fatimah dan Herdiana tentang pekerjaan pengamanan di kampus UIN Malang (2024) menunjukkan marginalisasi sistemik yang miris. Yaitu faktor labelling pada perempuan terkait fisiknya: dibanding dengan laki-laki ia lemah dan beresiko atas hal negatif lebih besar. Dan hal tersebut justru diamini oleh pihak satpam perempuan sendiri.
Ketidaksadaran gender semacam itu telah dipupuk dari zaman Kartini. Dalam salah satu surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar tertanggal 23 Agustus 1900 (dikutip dari Fahrudin Faiz) ada kalimat, "... Bukankah acapkali kudengar seorang ibu berkata kepada anaknya laki-laki, bila ia jatuh lalu menangis, 'cis, anak laki-laki menangis tiada malu, seperti anak perempuan'". Apakah kita familiar dengan kalimat serupa itu? Perempuan di mana-mana dianggap lemah sukanya menangis. Kartini ingin menegaskan bahwa peminggiran atas perempuan di zaman itu disupport tidak hanya oleh kaum laki-laki, tapi juga perempuannya.
Kartini memang perempuan Jawa yang mempunyai ciri khas berpakaian kebaya. Tapi, di Hari Kartini aku seperti tidak melihat apa-apa selain kebaya itu sendiri. Semangat Kartini yang menolak patriarki, feodalisme, dan kolonialisme sangat absen di antara riuh perayaan hari ulang tahunnya. Jangan mengira ketiga hal yang ditolak Kartini itu sudah lapuk dimakan zaman, alih-alih lenyap ketiganya hidup menyesuaikan kondisi sekarang.
Feodalisme dulu dan sekarang tidak pernah berubah pola. Bagaimana manusia bersikap tegak atau tunduk di situ feodalisme bisa diidentifikasi. Toto Rahardjo mengatakan bahwa feodalisme tak pernah mati. "... Ia hanya ganti kostum. Dari mahkota ke logo aplikasi, dari gelar kebangsawanan ke jabatan komisaris, dari tanah bengkok ke saham digital."
Begitu pun kolonialisme. Aku tidak bisa membayangkan perasaan Kartini jika ia tahu, bangsa yang ia pedulikan ketidakberdayaannya dan telah dibela-belakan dengan jiwa yang penuh semangat emansipasitori, agar bangsa tersebut terlepas dari penjajahan biadab, di kemudian hari justru menjelma penjajah itu sendiri, lebih biadabnya lagi bangsa itu (lewat penguasanya) menjajah di tanah saudaranya. Kurang baik apa orang-orang Papua sehingga mereka merelakan bergabung dengan Indonesia. Balasan oleh pemerintah pusat? Sudah banyak yang memberitakan: pengerukan sumber daya alam buat kepentingan negara tanpa memberi kesejahteraan pada rakyat Papua; Dari eksploitasi itu secara sepaket dirusaknya lingkungan pula yang juga menghilangkan sumber penghidupan masyarakat adat; Dan untuk membendung perlawanan, penguasa menggunakan kekuatan militer.
Patriarki sebagai "penyakit" sebetulnya masih bersarang dalam kehidupan masyarakat kita. Bisa dikata, cuma segelintir yang punya kesadaran untuk menolak itu sebagaimana dilakukan Kartini dahulu. Adanya satpam perempuan sebetulnya merupakan langkah yang cukup maju dalam mendorong kesetaraan gender. Namun, dengan struktur sosial di Indonesia yang masih memarginalisasi perempuan, tampaknya sulit buat mewujudkannya secara penuh. Dan, pikiran yang diwariskan rezim Orde Baru memandegkan upaya menuju ke sana. Selain berpakaian kebaya, satpam perempuan agaknya harus berkonsolidasi, paling tidak membicarakan Kartini dengan pikiran emansipasinya. Jangan hanya hapal judul bukunya, "Habis Gelap Terbitlah Terang", lebih dari itu baca semangat perlawanannya.
(Terakhir disunting 25 April 2026)
Referensi:
Siti Layli Fatimah & Baiq Nana Dwi Herdiana, Marginalisasi Sistemik: Kaburnya Ketidaksetaraan Gender Perempuan dalam Jasa Keamanan, LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya, Vol 13, No. 1 (Juni 2024).
Fahrudin Faiz, Ngaji Filsafat 151: RA Kartini - Feminisme, youtu.be/MdPk28cHxG4?si=du_EEoreWvIXL-Ag (diakses 23 April 2026).
Toto Rahardjo, Feodalisme: Tak Mati, Hanya Berganti Kostum Demokrasi, kenduricinta.com/feodalisme-tak-mati-hanya-berganti-kostum-demokrasi/ (diakses 25 April 2026)
Comments
Post a Comment