Tunggu Aku Sukses Nanti Itu Manifesto Komunis

Bukan satu pun film horor-- yang menakutkan-- sehingga membuatku ingin beranjak dari kursi dan keluar dari studio di mana sebuah film sedang diputar. Melainkan sekadar drama keluarga bertajuk Tunggu Aku Sukses Nanti (TASN).

Apalagi nontonnya bersama calon istri. Di tengah momen menjelang pernikahan yang beberapa bulan lagi. Dengan kesiapan pembiayaan tidak sampai angka 10% dari rencana anggaran yang sudah dibuat untuk konsep acara sedemikian rupa.

Apa sih yang ditampilkan film itu sampai begitu menakutkannya? Sebenarnya tidak literally menakutkan. Minimal dengan cerita tokoh utama yang sudah lama menganggur kemudian mendapat pekerjaan, dan di waktu ia telah bergaji pacarnya bilang, "Jangan lupa nabung buat kita, ya";

Dan, ketika saldo dalam layar mesin ATM tokoh utama menjadi jauh lebih banyak dari saldoku yang sebentar lagi harus menggelar pernikahan... itu cukup membuat wajahku tidak bisa bersembunyi dari rasa malu yang tidak tampak dalam gelapnya studio namun sebenarnya ramai menyerbu.

Hampir 90% TASN berisi tentang "kerja" dan segala hal yang meliputinya: susahnya mencari kerja, tekanan pekerjaan, penghasilan yang benar-benar harus diusahakan, persaingan di dunia kerja, dan satu lagi yaitu status sosial dampak dari seseorang yang menyandang sebuah pekerjaan beserta gajinya (apakah terpandang atau terhina).

Filsuf ternama yang sejauh ini aku kenal banyak memikirkan tentang manusia dan "kerja" adalah Karl Marx. Perjalanan intelektualnya dari kelompok Hegelian Muda hingga menggagas berdirinya organisasi buruh agaknya telah mengisi penuh pikirannya dengan segala ihwal tentang "kerja" dari A sampai Z. Aku akan mencoba menganalisis tipis-tipis film TASN sembari mengundang gagasan Marx sehingga relevan dengan isi ceritanya yang aktual sekali.

Tunggu Aku Sukses Nanti tidak lebih dari film keluarga yang disuguhkan di tengah suasana Lebaran 2026. Namun, potret kehidupan manusia yang ditampilkan khususnya pada Arga, tokoh utamanya, kiranya tidak berlebihan kalau film ini dianalisis memakai pisau filsafat Marx yang wataknya "garang" serta warnanya "gelap" dalam pandangan negeri Pancasila.

Arga adalah anak dari Yudi dan Rita, pasangan suami-istri yang punya warung mi ayam. Bersama adik Arga, mereka menjalankan usaha itu setiap hari di rumah sang nenek yang juga adalah tempat tinggal keluarga Yudi. Rumah itu menjadi titik kumpul mereka setiap Lebaran. Di antara saudara-saudaranya, orang tua Arga lah yang paling lemah ekonominya. Sehingga dalam hal apa pun keluarga Arga selalu menjadi pesuruh. Di acara kumpul-kumpul Lebaran misal, saudara mereka hanya duduk manis, sedangkan urusan masak, cuci piring, bersih-bersih, pokoknya semua yang pakai tenaga menjadi bagian Arga, adiknya, bapak, dan ibunya. Karena om, tante, dan sepupu Arga di sini yang mengeluarkan uang untuk membiayai keperluan acara tersebut.

Dari dalam rumah saja sudah terlihat bagaimana teori kelas sosial berlaku. Dalam Manifesto Komunis, karya Marx bersama Engels, sebagaimana dikutip Hendrawan (2017), "sejarah masyarakat yang pernah ada hingga saat ini adalah sejarah dari perjuangan kelas". Perjuangan kelas ini akan kita lihat nanti saat Arga telah sukses di pekerjaannya. Kita masuk dulu ke bagaimana si tokoh utama bergelut dalam "kerja" yang menarik buat kita pahami makna-maknanya.

Adalah 'work' bermakna 'karya' yang disampaikan Fahrudin Faiz dalam Ngaji Filsafat 337 tentang Kerja adalah persis dengan gagasan Karl Marx. Konsep kerja, menurut Marx, memiliki landasan antropologis yang sangat fundamental. Menurut Marx, manusia adalah hasil dari pekerjaannya sendiri. Manusia yang adalah makhluk pekerja tersebut berada dalam dunia. Dengan bekerja, manusia menemukan diri di dalam dunia karena ia mewujudkan impian-impian dirinya (Raharusun, 2021).

Namun, dalam kapitalisme semakin manusia bekerja justru ia terasing dari karyanya sendiri. Mengutip Hendrawan (2017) yang juga mengambil dari apa yang ditemukan Marx melalui Economic and Philosophic Manuscript of 1844, dalam kerja hasil kerja menjadi asing bagi pekerja. Hubungan antara hasil kerja dan pekerja adalah hubungan objektivikasi. Ketika pekerja mengarahkan hidupnya dalam suatu objek (proses menghasilkan produk kapitalis) maka kehidupan pekerja tersebut tidak lagi menjadi miliknya dan justru menjadi milik objek. Semakin besar produksinya, pekerja justru akan semakin berkurang hidupnya. Alienasi dari hasil produksi bukan hanya berarti pekerja menjadi objek, akan tetapi sebenarnya hasil produksi bukan menjadi bagian dari pekerja melainkan ada di luar pekerja. Hasil kerja menjadi sesuatu yang asing bagi pekerja. 

Sedang, yang dialami Arga ketika ia bekerja sebagai sales perumahan agak berbeda. Bahkan kapitalisme yang dilihat Marx pada masanya berbeda dengan kapitalisme sekarang. Namun pada prinsipnya tetap sama. Kapitalisme meniscayakan dua kelas sosial yaitu borjuis dan proletar (pekerja).

Alienasi dalam pekerjaan merupakan konsekuensi dari keberadaan dua kelas tersebut. Kelas borjuis atau kaum kapitalis adalah para majikan yang memiliki alat produksi yang berupa mesin-mesin industri, pabrik dan tanah. Kelas buruh (pekerja) adalah mereka yang melakukan pekerjaan tanpa memiliki tempat dan sarana kerja. Kelas buruh adalah kelas sosial yang terpaksa menjual tenaga dan waktu mereka kepada kelas kapitalis (Hendrawan, 2017).

Sales menjualkan rumah yang dibangun dengan tangan para pekerja bangunan. Tapi, rumah itu bukan milik pekerja bangunan pun sales. Melainkan milik pemodal. Wujud rumah yang sedemikian megah disusun dari batu bata, pasir, semen, kayu, besi, dan lain-lain oleh kuli bangunan. Rumah berdiri, kuli harus meninggalkannya. Tidak sampai di situ. Pemodal mau menjual rumah miliknya itu tapi tidak mau memakai mulutnya sendiri buat menawarkan ke pembeli. Alhasil, dia mengupah mulut orang lain yaitu sales. Tapi, sales tidak pernah memiliki rumah itu.

Arga yang semula adalah laki-laki yang lurus perilakunya, semenjak ia bekerja menjadi sales dan semakin merasa harga dirinya dan keluarganya terinjak-injak, ia berubah menjadi seseorang yang ambisius dan gelap mata. Arga mengabsahkan cara-caranya meskipun tidak etis. Ini ada dalam bagian ketika rekan kerja sesama sales merasa dicurangi oleh Arga, customernya direbut. Persaingan kemudian berubah menjadi permusuhan, rekannya membalas Arga dengan lebih kejam dengan memfitnahnya telah berdiri di dua kaki, bahwa Arga bekerja untuk perusahaan lain, hal yang sangat dilarang di perusahaannya. Buntutnya ia dipecat. Hubungan manusia yang bersifat persaingan hendak menegaskan bahwa keuntungan yang satu merupakan kerugian bagi yang lain (Magnis Suseno dalam Raharusun, 2021).

Sebelum kejadian nahas itu, Arga sempat mencicipi kesuksesan dalam pekerjaannya. Saldo rekeningnya meningkat secara signifikan. Bagi Arga itu bukan tujuan akhir. Perjuangan Arga adalah perjuangan kelas di dalam wilayah kecil keluarga. Dengan kesuksesan yang ia dapatkan, ia mampu berdiri hampir sejajar dengan para borjuis di keluarga besarnya yang hobi suruh itu dan ini. Hampir. Meskipun ia tetap gagal meruntuhkan sistem kapitalisme dalam keluarganya dengan jalan ekonomi tersebut. Arga belum kuat menandingi para borjuis semisal dalam nominal THR untuk keponakan-keponakan.

Tapi, lewat perjuangannya yang sangat herois dan alur dramatis, lewat penyadaran moral, akhirnya Arga berhasil. Titik baliknya ialah saat salah seorang tantenya meninggal. Semenjak itu, para borjuis yang tersisa turut menggunakan tenaganya untuk mencuci piring. Akhir cerita film itu tidak lain adalah runtuhnya kapitalisme dalam keluarga. Begitulah. Sekadar opini. Apakah kalian berpikiran yang sama?


Referensi:

Datu Hendrawan, Alienasi Pekerja Pada Masyarakat Kapitalis Menurut Karl Marx, Jurnal Arete, Vol. 6, No. 1 (2017).

Johanis H. Raharusun, Makna Kerja Menurut Karl Marx (Sebuah Kajian dari Perspektif Filsafat Manusia), Media: Jurnal Filsafat dan Teologi, Vol. 2, No. 1 (2021).

Fahrudin Faiz, Ngaji Filsafat 337, youtu.be/Wf8DyJY6o4w?si=ht4OE6UdV0o-oBzp (diakses 5 April 2026).

Comments

Popular posts from this blog

Mencitrakan Sopir Truk

Ketika Formalisme Dihadapkan pada Moral

Oh, Fadia Arafiq